May 16, 2009

2/5 of Goal…

Filed under: Review
   Bagian pertamanya ada di sini. Sebenernya gw udah baca 12 buku lagi (jadi total udah baca 22 dari target gw yaitu 50), tapi gw belum sempet nulis review buat tiga buku, jadi gw post seadanya aja.

   Gw emang bukan reviewer handal yang bisa menilai baik kelebihan dan kekurangan suatu buku dan mungkin kadang komentar gw terlalu naif dan kekanakan, tapi apa yang gw mau lakukan adalah gw ingin berusaha menjelaskan pendapat gw tentang masing-masing buku itu. Semoga saja bisa bermanfaat buat temen-temen semua yang juga suka baca buku. Enjoy!
 
11. Since I Don’t Have You, Louise Candlish - 1 Mar
Ringkasan: Rachel, Mariel, dan Jen adalah tiga orang sahabat baik, dan anak-anak dari mereka bertiga pun berteman baik. Mereka berjanji bahwa jika terjadi ’sesuatu’ pada salah satu dari mereka, yang lainnya akan menjaga anaknya seperti halnya mereka menjaga anaknya sendiri. Tapi sebuah tragedi yang tidak terbayangkan terjadi, Rachel pun meninggalkan teman-teman dan suaminya lalu pergi ke Santorini di Yunani untuk memulai awal yang baru.

Sama-sama bertema tentang proses pemulihan seseorang yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dikasihinya, buku ini sekilas membuat gw ingat pada P.S. I Love You. Tapi tidak masalah, ini adalah sebuah buku yang benar-benar berbeda.

Ceritanya menyentuh dan deskripsinya mengena, seperti tentang perasaan Rachel yang begitu kehilangan dan tentang indahnya pemandangan Santorini. Urutan ceritanya yang sering berputar-putar kadang membingungkan, tapi secara keseluruhan buku ini telah ditulis dengan baik.

Gw bisa lebih mudah mengerti perasaan Rachel dibandingkan tokoh Holly dari P.S. I Love You yang menurut gw kadang terasa ‘menyebalkan’. Karena bagi gw lebih mudah mengerti perasaan seorang ibu dibandingkan seorang istri.

Sambil membaca buku ini, gw pun memikirkan tentang hubungan gw dengan teman-teman dan keluarga gw… dan seperti biasa, sempet bikin gw hampir nangis bombay termehek-mehek lagi, hehe.

Gw kesulitan untuk memilih satu quote dari buku ini. Jadi biarkanlah gw mengambil tiga.

Quote: "I know you expected to live on in her, but what you have to remember is that she is living on in you."

"If being annoying was a cause for breakup, there’d be no couples left."

"The thread between us was as slight as spider’s silk, but it was a thread I was not yet ready to break."

12. A Cat in My Eyes: K, Fahd Djibran - 8 Mar
Ringkasan: Gw rada bingung memberi ringkasan untuk buku ini. Oke, gw bilang saja ini adalah "buku tentang pertanyaan-pertanyaan dalam hidup".

Pertama-tama, gw harus bilang kalau gw tertarik untuk membaca pertama-tama karena tampilan luar bukunya. Covernya menarik, ukuran dan layout bukunya juga pas dan kualitas kertasnya juga oke. Dan… kebetulan lagi diskon, hehe.

Buku ini entah bagaimana mengingatkan gw pada buku "Mimpi-mimpi Einstein" (Einstein’s Dreams) yang pernah gw baca dulu. Potongan-potongan cerita yang sebenarnya tidak nyambung satu sama lain, tapi mempunyai ‘tema’ yang sama yang sedang mempertanyakan sesuatu.

Tulisan-tulisan di buku ini bervariasi, jadi kadang kita akan membaca yang panjangnya 20 halamanan (contoh: Fragmen Malam), atau bisa yang cuma 3 baris (contoh: Membencimu).

Gw sendiri bukanlah tipe orang yang ‘filsafat’-nya dalam, jadi gw mengalami kesulitan untuk benar-benar mengerti maksud dari beberapa tulisan di buku ini. Tapi tidak masalah, gw masih tetap bisa menikmatinya.

Buku ini membuat kita berpikir dan ikut bertanya-tanya juga tentang hal-hal sederhana yang selama ini kita terima saja apa adanya. Biarpun gw menghabiskannya dalam satu malam, gw rasa gw akan tetap membaca ulang buku ini berkali-kali.

Hmm, lagi-lagi gw kesulitan untuk memilih satu quote dari buku ini. Jadi gw bakal ambil tiga (lagi).

Quote: "Andai dunia ini serupa. Dunia tentu kesepian. Stagnan. Tak ada persilangan. Tak ada warna yang lain. Tak ada suara yang lain. Semua suara adalah bunyi yang sama. Setiap warna sama saja. Tak ada perbedaan. Jadi, tentu saja: tak ada harmoni. Monokrom. Membosankan, bukan?"

"…jika kau melihat orang gila di pinggir jalan- kumal, kotot, bau, tak wajar, tak seperti kita, bagaimana orang itu berpersepsi atas dirimu? Adakah ia tahu kalau dirinya gila, sementara kau tidak? Atau, jika dia justru berpersepsi bahwa dirinyalah yang waras sementara kau gila, siapakah sesungguhnya orang gilanya? Kau atau dia?"

"Bukankah Romeo tidak mendefinisikan cinta terlebih dahulu untuk bisa mencintai Juliet? …Cinta adalah jawaban, Zira. Bukan pertanyaan."

13. Slipping Into Darkness (versi terjemahan: The Devil’s DNA), Peter Blauner - 14 Mar
Ringkasan: Julian "Hoolian" Vega yang masih 17 tahun didakwa telah membunuh seorang dokter wanita bernama Allison Wallis. Francis X. Loughlin adalah detektif yang menyelidiki tentang kasus ini. 20 tahun kemudian setelah Hoolian akhirnya dibebaskan, Francis kembali menangani kasus pembunuhan seorang dokter wanita. Saat mereka menemukan DNA Allison Wallis di bawah kuku korban, para polisi mulai mempertanyakan: apakah mereka selama ini telah menjebloskan orang yang tak bersalah ke dalam penjara?

Ini bukanlah tipe buku thriller kriminal di mana ada seorang pembunuh misterius yang berkeliaran membunuh korban satu-persatu dengan sadis, lalu ada seorang detektif berusaha menangkapnya sebelum korban lain berjatuhan. Bukanlah sebuah buku di mana begitu jelas kubu ‘hitam’ dan ‘putih’nya, tetapi lebih pada bagian ‘abu-abu’.

Hal yang paling menarik dari Slipping Into Darkness adalah character development-nya. Dua tokoh utama cerita ini adalah Hoolian, si pria tak bersalah yang harus kehilangan 20 tahun hidupnya di penjara dan ingin membersihkan nama baiknya, dan Francis, si detektif yang mempunyai ego yang terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya dan berusaha mengerjakan pekerjaannya sebaik-baiknya.

Penceritaannya berganti-ganti antara kejadian yang dialami Francis dan Hoolian, sehingga kita mengenal sama banyaknya mengenai kedua karakter itu. Membuat kita merasa empati dengan nasib Hoolian yang kesulitan melanjutkan hidupnya seperti orang biasa, dan dengan Francis yang mulai tua dan mulai kehilangan pengelihatannya dan berusaha mencari kebenaran.

Peter Blauner dapat menjaga ’suspense’ sampai halaman-halaman akhir buku ini lewat karakter-karakternya yang begitu hidup dan pilihan-pilihan katanya, sehingga kita selalu merasa ingin terus melanjutkan membaca.

Quote: "Kenapa aku harus menghapus garis yang salah? …Dalam hidup, kau tak menghapus kesalahan."

14. Reputation, Tessa Intanya - 18 Mar

Ringkasan: Sekuel dari Glam Girls karangan Nina Ardianti. Kali ini ditulis dari sudut pandang Rashi, the most popular girl in VIS dan sang bos dari ‘the clique’ yang senang bersilat lidah dengan orang lain. Siapa bilang cewek populer hidupnya selalu bahagia? Sebuah blog yang menjelek-jelekkan dirinya dan teman-temannya, ibu yang menyebalkan, ayah yang sakit-sakitan, dan pacar yang menuntut. Masih bisa bilang begitu?

Masih seputar lika-liku kehidupan cewek-cewek remaja ‘glamor’: so-called ‘BFFs’, traitors, guys, gossips, shopping, bitching around, drama, cat-fighting, more shopping, dating, more bitching around, and more gossiping. Gaya penulisannya pun masih serupa, dengan (lebih) banyak kalimat Inggris dan nama merk diselipkan di sana-sini, hampir setiap lima baris ada kali ya…

Biarpun gw kadang merasa kurang suka pada karakter Ad di buku Glam Girls, sepertinya gw harus menarik ucapan gw. Rashi dengan ucapannya dan tindak-tanduknya yang selalu merasa superior dan tidak mau mengalah jauh lebih mengesalkan, haha. Well, that’s what makes Rashi is Rashi…

Malah Ad di buku ini justru terasa sebagai ’sang waras’ yang berusaha untuk mengembalikan the devil to the ‘right way’ (which fails, of course…). Di buku ini ada juga seorang tokoh yang selalu gw tunggu-tunggu kehadirannya: Arian :P Hope to hear more from him in the next book!

Namun secara keseluruhan, buku kedua Glam Girls series ini tetap menarik, ringan, dan menghibur kok.

Dan dari buku pertama, gw masih belum juga terlalu tertarik dengan karakter May. Nah, karena buku selanjutnya akan ditulis dari sudut pandang doi, gw jadi lebih tertarik untuk menunggu buku ketiganya Glam Girls nanti - Unbelievable. (Menurut gw sih desain covernya rada norak warnanya dan kurang matching dengan dua pendahulunya, but maybe that’s just me.)

Quote: "’Having one boyfriend is called monogamy. Having two boyfriends is called… (rhymes with witch).’"

15. Look Me in the Eye, John Elder Robison - 23 Mar

Ringkasan: Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis oleh John Elder Robison, seorang Aspergian - bentuk ringan dari autisme. Ia sangatlah pintar dalam urusan mesin, elektronik, dan kalkulasi matematika, tetapi ia mendapat kesulitan untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain. Di buku ini ia menceritakan perjuangan-perjuangannya dalam hidupnya agar bisa diterima oleh orang lain dan dapat melakukan hal yang ia sukai.

Sesuai dengan karakter seorang Aspergian, gaya bahasa dalam buku ini ditulis dengan logis, jujur, dan blak-blakan. Lucu, menghibur, dan membuat kita berpikir. Kita jadi lebih tahu tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seorang Aspergian (atau autis) dan rasakan tentang hal-hal di sekitarnya.

Pemikirannya menarik dan tingkahnya lucu untuk dibaca. Contohnya seperti saat ia membuat bubuk narkoba palsu yang akhirnya malah dicuri oleh bosnya, atau saat ia berpikir keras hanya untuk menjawab pernyataan basa-basi sederhana dari temannya. Gw sering terkekeh sendiri saat membaca buku ini.

Gw juga kagum pada sosok Robison. Tentang pemikirannya yang unik, kemampuannya dalam bidang mesin, dan semangatnya yang pantang menyerah. Meskipun ia mengalami banyak kesulitan dalam kehidupannya, ia selalu berjuang. Pada akhirnya, ia pun berhasil mengalahkan kekurangan-kekurangannya dan menjadi orang yang sukses.

Ini adalah salah satu buku yang sebenernya gw pengen baca dalam bahasa Inggris, tapi apa daya udah dibeli waktu lagi diskon dan udah dibaca abis :(

Quote: "Kebanyakan deskripsi tentang autisme dan Asperger menggambarkan orang sepertiku sebagai "tidak menginginkan kontak dengan orang lain" atau "lebih suka bermain sendiri". Aku tidak bisa berbicara atas nama yang lain, tapi aku ingin menjelaskan perasaanku sendiri: aku tidak pernah ingin sendirian. …Aku bermain sendiri karena aku gagal untuk bermain dengan yang lain."

""Sering kali pada waktu siang aku meneleponnya dan berkata, "Woof! Kau suka pada pasanganmu?"
"Ya, aku menyukaimu," katanya.
Satu jam kemudian, aku pasti sudah lupa karena aku menelepon lagi dan berkata "Woof! Kau suka pada pasanganmu?"
"Ya, aku masih menyukaimu," ia meyakinkanku kembali.""

16. The Boy Who Ate Stars, Kochka - 24 Mar
Ringkasan: Lucy, seorang gadis berusia 12 tahun pindah rumah. Di flat barunya, ia bertemu dengan Marie yang ramah dan penyayang, anaknya yang autis - Matthew, dan Maougo, seorang penjaga anak dari Rusia yang pendiam dan misterius. Sejak bertemu dengan Matthew, Lucy merasa sangat tertarik dan ia bertekad untuk berusaha tahu lebih banyak lagi tentangnya.

Waktu pertama dipinjamkan buku ini, gw rada ragu karena melihat tebalnya yang cuma 104 halaman. Tapi ternyata isinya menghibur dan ringan, meskipun topik autisme sebenarnya adalah topik yang cukup dalam.

Seperti buku Look Me in the Eye yang gw bicarakan sebelumnya, buku ini juga berusaha menjelaskan bahwa orang autis pun sebenarnya bisa dan ingin berkomunikasi, hanya saja mereka melakukannya lewat cara-cara yang berbeda dengan kita.

Gaya bahasa dalam buku ini sederhana, seperti seorang anak kecil yang sedang menceritakan sesuatu. Mereka tidak mendeskripsikan sesuatu sampai ke detil-detilnya, tapi cerita itu terus mengalir dari satu adegan ke adegan lain. Kata-kata yang dipakai Lucy dalam deskripsinya pun menarik dan mudah dimengerti, terkadang lucu.

Quote: "Kau hanya bisa melihat dengan hatimu, sebab matamu tidak sanggup menangkap apa yang penting."

"Akan kumakan topiku kalau itu bukan komunikasi namanya."

17. Ciao Italia! : Catatan Petualangan Empat Musim, Gama Harjono - 27 Mar
Ringkasan:
Catatan perjalanan seseorang yang telah ‘jatuh cinta’ dengan Italia dan memutuskan untuk menghabiskan waktu setahun bersekolah di sana. Pengalaman-pengalamannya berjalan-jalan mengunjungi berbagai tempat indah di Italia dan juga Prancis, sampai acara berpesta dan bersenang-senang dengan orang-orang dari berbagai macam negara.

Biarpun gw orangnya emang jarang traveling, gw sebenernya tertarik untuk mengunjungi berbagai macam tempat di luar sana: dan salah satu tempat yang gw impikan adalah Eropa. Buku ini sudah berhasil memberikan gw gambaran lika-liku hidup di Italia lewat deskripsi tempat-tempat yang digambarkan dengan indah dan mendetil, kira-kira kita bisa merasakan "free trip to Italy with Gama Harjono" gitu deh.

Seru, menarik, inspiring, dan informatif. Kalau buku-buku catatan travel lain menceritakan perjalanan ke berbagai negara, buku ini hanya fokus pada Itali saja sehingga kita lebih bisa kebayang tentang cakepnya pemandangan di sana dan lezatnya makanan di sana… wuihh! Hehe.

Quote: "Maka, bagaimana menyembuhkan oramg Naples yang sedang sakit kepala? Panadol? Bukan! Aspirin? Bukan juga! Tawarkan saja dia secangkir kopi!"

18. Best of the Best, Luna Torashyngu - 27 Mar
Ringkasan:
Reina, sang bintang sekolah selalu merasa benci dengan anggota cheerleaders, terutama Tasha and the gank. Hingga kemunculan seorang murid baru yang misterius bernama Muri yang langsung menggantikan Tasha sebagai cewek terpopuler yang baru, serentetan kejadian aneh mulai terjadi di sekitar Reina.

Buku ini enak dibaca dan membuat kita penasaran, sehingga gw merasa betah untuk langsung menyelesaikannya kurang dari dua jam (di bawah sinar lampu remang-remang pula, soalnya lagi mati lampu!).

Plotnya menarik dan tidak bertele-tele, dengan cepat berpindah dari satu scene ke scene yang lain. Bahasa yang dipakai pun ringan, tanpa deskripsi ngejelimet tentang segala macamnya.

Biarpun gw sempet berharap akan dibahas lebih detil tentang pekerjaan Muri sebagai hacker, ternyata di buku ini urusan itu belum terlalu dibicarakan. Mungkin di buku selanjutnya?

Cuma ending-nya terasa kurang dan masih ‘nanggung’. Buku ini terasa seperti baru introduction dari cerita sesungguhnya, dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ditunggu buku selanjutnya - Best of the Best: Beauty Bird!

Quote: "Tahun berapa Candi Borobudur dibangun?"

 
3 buku yang belum sempet gw review:
19. My Stupid Boss, Chaos@Work - 28 Mar
20. Travelers’ Tale; Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita - 31 Mar
21. Nobody’s Perfect, Stephanie Zen - 14 May

22. Yakuza Moon, Shoko Tendo - 15 May
Kalau kamu mengharapkan cerita yang menjelaskan kehidupan yakuza dan cerita dengan action-packed thriller yang memacu andrenalin, bukan itulah yang ada di buku ini.

Buku ini menceritakan kisah nyata tentang hidup Shoko Tendo, putri seorang yakuza yang mengalami berbagai macam perjuangan keras dalam hidupnya. Gw menganggap buku ini menarik bukan hanya semata-mata cover bergambar tato asli yang ada di punggung Shoko Tendo atau karena temanya yang membahas budaya Jepang, tapi ada sesuatu yang lebih dari buku ini.

Banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari buku ini. Pelajaran untuk tidak mudah menyerah, mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, menghargai orang tua, dan belajar untuk memilih keputusan yang tepat untuk masa depan.

Dimulai dari masa remaja Shoko Tendo yang penuh dengan kekerasan, seks bebas, obat-obatan terlarang, lalu ia berkali-kali jatuh cinta dengan pria yang salah yang malah sering menyiksanya, kakak yang terus-terusan meminta uang, dan ayah yang sakit-sakitan… wanita ini telah mengalami hidup yang sangat berat.

Namun itulah yang membuat kita dapat berdecak kagum melihat ketegaran dan semangat juang Shoko untuk membebaskan diri dari masalah-masalahnya.

 
Mungkin ada beberapa orang yang keberatan dengan bagian kekerasan dan vulgar dalam buku ini, tetapi gw sangat menghargai keberaniannya untuk menulis buku ini. Pengalaman-pengalaman dan aib yang telah ia lalui, semua ia tuliskan dengan bahasa yang begitu sederhana, lugas, dan jujur. Tentulah itu bukanlah hal yang mudah.
 
***
   
   Oke, itu aja review-review dari gw kali ini. Semoga bisa berguna! :D