July 1, 2009

Chip Chip Diaries! #2

Filed under: Daily Moments, Foto

   Lanjutan dari post yang kemarin. Duh, kok kayaknya gw jadi sering nulis postingan berseri begini ya? Hehe, habis kalo diembat semua dalam satu post bisa jadi panjang banget.

   Pada hari kedua gw dan sodara-sodara gw di Jogja, kita bakal pergi ke candi lain yang kayaknya udah ’satu paket’ deh sama Borobudur, yaitu… Candi Prambanan!! FYI, lokasi kedua situs candi ini gak berdeketan lho (biarpun sama-sama di Jogja, duh). Jangan sampe kayak sepupu gw si Vian yang malah berkata, "Lho, gue kira candi Borobudur tuh letaknya ada pas di belakangnya candi Prambanan…"

 
Wajah-wajah nan loyo karena di sana lagi panas-panasnya dan silau banget man…

   Perhatikan baju-baju yang kami pakai! Anda melihat sebuah ‘pattern’? Yap, setelah kami kemarin sudah bernorak-norak ria dengan dresscode baju warna merah, hari ini kami sepakat mengenakan baju "I <3 Jogja" yang kami borong di Malioboro kemarin! Hihi, tambah norak aja…


Kiri: Anak ilang.
Kanan: Dua cewek keren habis berhasil merubuhkan candi… *hoho, bo’ong abis*

   Karena hari itu lagi oh-em-ji-PUANASS!!-banget, gw pun mengeluarkan kipas dari tas gw dan mule ngipas-ngipas sambil keliling liat-liat candi. Kipasnya tuh model kipas orang Cina jaman dulu gitu loch… Tiba-tiba saja ada yang noel-noel gw dari belakang. Waktu gw nengok, ada dua orang cewek gitu…

   "Miss… Can we take a picture with you?" ucap yang satunya.

   Hah?!?! Waduh, dalam rangka apa ini? Gw sih refleks langsung menolak, biasa, seleb… Satu diterima ntar fans yang lain pada ngiri semua. Halah! Huehehe… Sodara gw juga katanya digituin. Katanya kita dikira turis Jepang! Ya ampyun, harusnya tadi gw iseng ya sok-sokan ngomong Jepang sama sodara-sodara gw ala "konichiwa-sushi-teriyaki-nobita-doraemon-otaku" gitu, biar dikira turis Jepang beneran, hehe. (Tau-taunya malah ntar didatengin turis Jepang beneran baru nyaho…)

   Di daerah situ juga ada rusa lho! Lucu-lucu, apalagi yang masih kecil. Para pengunjung boleh ngasi makan mereka dengan wortel yang sudah disediakan (gratis, in case you’re wondering) dan foto-foto (biarpun dihalangi pagar).


Dengan tatapan menuntut: "Mana wortel gue, turis!"

   Setelah Candi Prambanan, our next stop is… Parangtritis. Pantai yang terkenal dengan Nyi Roro Kidul alias Ratu Pantai Selatan itu. Di sana kita disarankan nggak pake benda-benda yang berwarna hijau, takut nanti bisa dibawa ombak sama Nyi Roro Kidul katanya!

   Sepupu gw Ricky percaya banget dengan cerita itu, sampe dia berdoa dulu komat-kamit waktu yang laen mau maen di pinggir pantai. Thomas bahkan sampe ngamuk-ngamuk waktu kita bilang mau main air di sana.


Kiri: "Semoga gue gak diseret sama Nyi Roro Kidul… Gue kan masih muda, cute, belum punya pacar lagi… Kalo mau si Vian aja yang diambil… Ya? Ya?"
Kanan: "Lihat, ada sapi terbang!!"


Tulisan gw di pasir, sebelum dan sesudah dihancurkan oleh kaki-kaki jahat :’(

   Di situ airnya biru banget, pasirnya juga masih termasuk bersih, biarpun puanasnya minta ampunnn dahh. Waktu kita dateng lagi sepi, cuma ada beberapa turis lain, jadi kita bisa asyik deh main. Kita foto-foto, dan nulis-nulis di pasir setelah gw menemukan sebuah penemuan revolusioner: ranting kayu yang bisa dipake buat nulis-nulis tanpa bikin tangan kotor :P


Foto favorit gw di sana! *setelah berulang-ulang kali gagal motret*

   Sayang, kita gak bisa berlama-lama di sana. Bahkan gak sempet main air! Sedihnya, ke pantai tapi badan gak basah sama sekali… Tante gw pun menghibur dengan bilang sebagai gantinya kita bisa berenang di hotel nanti. Anak-anak yang polos pun dengan mudah tertipu dan gembira kembali.

   Nah, tujuan kami setelah itu adalah pabrik Coklat Monggo.

   Pabriknya bukan pabrik gede yang banyak mesinnya gitu, jangan salah sangka. Tempat itu sederhana, dan orangnya nggak terlalu banyak, kerjaannya masih banyak yang dikerjain manual dengan tangan.

   Anak-anak pun dengan heboh langsung berebutan saat disodorin senampan ‘sample‘ coklat. Waaa, ternyata enakkk!! Kita pun beli beberapa boks untuk dimakan selama perjalanan dan juga buat oleh-oleh. Nih, sampe sekarang aja di kamar gw masih ada beberapa bungkus coklat. Dari kemaren gw makan mlulu tuh coklat waktu bosen… Wah, lama-lama gw bisa jadi ndut.

 

   Di sana, kita juga disodorin sebuah buku tamu (foto di pojok kanan bawah). Wuih, tentu saja kita langsung heboh buat mengisinya. Dibandingin halaman-halaman lain, punya kita yang paling rame dan… kacau, tentunya. Buat yang kapan-kapan mau ke Coklat Monggo, kalo menemukan halaman seperti gambar di atas, yaaa… itulah hasil karya kami.

   Dipenuhi tulisan-tulisan seperti: "WE <3 JOGJA!", "Monggo is the best!", "Maap… pahit!", "Enak buanget…!!", "Banyakin tester!!!", tanda tangan, coretan abstrak, gambar hamster cacat, dan coretan-coretan tak jelas lainnya.

   Setelah memborong coklat dan ngisi buku tamu, hari ternyata udah mau sore, jadi kita pun berangkat pulang. Sampe di hotel udah mau jam 6 gitu, tapi itu bukan alasan biar kami gak bisa berenang. Kemarin aja bisa, kenapa hari ini nggak? Let’s go swimming, guys!! Lagi-lagi kolam itu kita blokir jadi milik kita doang, yang laen cuma bisa numpang di pinggir karena takut ketendang ato ketiban kita-kita, hehe. Sorry, mister…

   Malam itu, kita mau naik becak buat keliling-keliling. Tadinya sih mau andong, cuma lebih mahal dan jarang ketemunya. Karena kita orangnya banyak, jadi kita nyewa lima becak sekaligus. Asyiik, konvoi gitu deh kayak parade… hehe.

   Naik becak di sini nggak perlu takut kayak naik kendaraan umum di Jakarta. Para pengemudi becak di Jogja itu tergabung dalam sebuah asosiasi yang namanya Asosiasi Paguyuban Becak Yogyakarta (Aspabeta). Jadi tiap pengemudi becak itu didata dan ada kartu identitasnya, jadi nggak perlu takut dibawa kabur oleh orang-orang cabul yang ngaku-ngaku jadi tukang becak. Mereka juga nggak bisa minta tarif seenak jidatnya.

   Saat keliling-keliling, kami sempat dibawa mampir ke beberapa toko. Kebanyakan sih toko baju dan toko lukisan. Kadang kita ngelewatin gang-gang sempit bin gelap gitu (tante dan nyokap gw sempet ketakutan, tapi lagi-lagi sang pengemudi becak menenangkan mereka) atau lewat di tengah jalan raya.

   Pengemudi becak gw pertama-tama mengayuh dengan penuh semangat seperti yang lainnya. Namun saat kami sudah menempuh sekitar setengah perjalanan, becak kami bergerak semakin lambat, bahkan sering tertinggal. Gw bersama Sella udah sempet was-was aja.

   Saat tanjakan, si pengemudi becak itu mulai batuk-batuk, terkadang berhenti dulu untuk buang rehak. Kita menengok ke arah dia dengan kawathir, tapi ia terus melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya di pinggir jalan, ia tiba-tiba berhenti untuk bicara dengan seorang pengemudi becak yang lain.

   "Saya udah nggak kuat," katanya lalu menunjuk ke becak temannya, "Adek-adek pindah ke sana aja ya."

   Kita pun pindah aja ke becak satu lagi. Apa bapak itu akan baik-baik saja? Jangan-jangan dia sakit parah… Jangan-jangan gara-gara si Sella keberatan! *langsung digampar xD* Kita sampai di tempat tujuan dengan selamat, dan sodara gw yang lain gak ada yang nyadar kalo pengemudi becak gw ganti orang. Tante gw malah bilangnya, "Lho, kok becaknya berubah ya?".

   Tapi syukurlah, keesokan harinya, kami melihat si pengemudi becak itu lagi, sudah nangkring di depan hotel kami dan tampak sehat…

   Wah, petualangan kami di Jogja masih ada dua hari lagi!