
Pernahkah lu merasakan tinggal dalam sebuah rumah kecil empat kamar dengan kurang lebih 42 orang sekaligus?
…Well, gw baru saja merasakannya selama tiga hari yang lalu.
***
Dalam rangka ulang tahun oma gw yang ke-81, keluarga besar gw menyewa sebuah vila di Bogor untuk ditinggali bersama-sama selama tiga hari. Sebenernya ada satu vila yang paling gede di daerah situ, yang ada kolam renang pribadinya segala, tapi ternyata udah keburu di-booking orang lain. Villa yang kami tempati nggak sebesar yang itu, tapi muat lah untuk menampung kita semua.
Gw tiba paling awal di villa itu, jadi gw sempat merasakan leganya villa itu saat masih kosong.
Namun semua kedamaian itu hancur saat keluarga-keluarga lain berdatangan. Suasana jadi ramai dan ribut, mulai dari hall di lantai atas sampai kursi-kursi di depan rumah dan lapangan di belakang. Privacy di dalam villa? Jangan berharap banyak. Kakak sepupu gw aja waktu telponan sama ‘yayang-nya’ digangguin mlulu sama anak-anak.
Bahkan saat salah satu sepupu gw lagi mandi, seseorang membuka pintunya (berhubung kamar mandinya gak ada kunci, sialan). Secara refleks, orang normal akan berteriak "Ahh!" atau "Kyaa!" biar kayak di komik-komik, tapi sepupu gw berbeda.
Ia berteriak… "CIP!!!"
"Cip!" seperti suara anak ayam, katanya. Dalam perayaan ultah oma gw pun ia mempersembahkan sebuah tarian "Cheep-cheep-dance" - ia menari seperti ayam sedang mengepakkan sayap sambil bernyanyi "cip-cip-cip". Jangan tanya kenapa dia suka bicara "cip" karena gw juga nggak tau.
Makanan yang disediakan oleh para ibu-ibu koki handal disediakan secara buffet. Sistemnya adalah "Siapa cepat, dia dapat". Jadi kita harus buru-buru mengambil makanan yang diincar dan mencari tempat strategis untuk makan sebelum diambil orang lain.
Mandi juga harus ngebut, kalau tidak mau tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka oleh orang lain dan ditarik keluar. Mandi pun harus ngantri. Belum lagi ada yang tiba-tiba kebelet tingkat emergency dan terpaksa harus nyelip ke barisan paling depan. Pada akhir hari, kamar mandi itu jadi super bau nggak enak! Kalau kata om gw, "Mandi di sini kayak mandi di Etiopia", biarpun gw kurang ngerti maksudnya.
Saat makan, biasanya gw dan sodara-sodara yang biasa maen sama gw duduk di sofa sambil nonton TV. Salah satu tempat paling nyaman, hehe. Biarpun saat nonton para bapak dan ibu sering numpang lewat dan menghalangi layar, sih. Di sana kita nonton a Bug’s Life sama Sketsa di Transtv, sama acara-acara geje lain yang kita nggak tau judulnya apa. Berbagai percakapan aneh pun sering terjadi:
Sepupu #1: *tiba-tiba datang dan duduk di tengah kami* Dewa datang!
Sepupu #2: Dewa apaan?
Sepupu #1: Dewa sikil! *sambil ngangkat kaki dengan penuh kebanggan*
Kita semua: Uhh…???
Kenapa harus sikil (kaki) dari seluruh anggota tubuh yang ia miliki? …Entahlah. Yang pasti dia senang sekali mengucapkan kata "sikil" seolah-olah itu adalah kata yang memiliki makna yang sangat dalam.
Sepupu #1: *ngangkat baju dan memamerkan perut*
Sepupu #2: Heh, perut kayak gitu jangan dipamerin di sini, di museum aja sana!
Museum manapun pasti tidak mau menerima perut gendut seperti itu.
*Iklan L-Men of the Year muncul di TV, memamerkan beberapa elemen seperti water, fire, dll, diakhiri dengan ‘who’ll be the next L-men?’*
Sepupu #3: …Pasti gw jadi L-Men selanjutnya! Gw bisa jadi wind… atau…
Sepupu #2: Haa? Elo sih elemennya Trash (sampah) aja. Cocok!
*Iklan 3 yang legendaris muncul di TV.*
MU: Ini Budi. Budi bermain bola.
Celetukan kita: Ini Budi. Budi tidak jadi bermain bola. Budi takut dibom.
Sepupu #3: Eh, tadi malem ada yang kebangun gak gara-gara suara orang yang kenceng banget?
Kita semua: …Nggak tuh.
Sepupu #3: Haa? Tapi kan itu kenceng banget!! Gw aja liat dia *nunjuk salah satu kakak sepupu gw* kebangun, nengok kiri kanan, terus tidur lagi!
Kita semua: …Tapi kita nggak denger.
Sepupu #3: …J-jangan-jangan gw berhalusinasi?! M-Mustahiiil!!!
Kakak sepupu gw yang laen: Uh, tenang, gw juga denger kok.
Oh ya, ngomong-ngomong, salah satu kakak sepupu gw ada yang bisa main berbagai sulap kartu. Katanya sih belajar dari internet. Berhubung kita yang laen gak ada yang bisa sulap, kita cuma bisa cengo dan takjub ngeliatin dia. Sepupu gw yang masih kecil berusaha meniru, tapi sudah jelas, mereka gagal.
*Kakak sepupu gw ngebalik semua kartu yang tadi kita pilih, hasilnya As semua*
Kita: WOW!!
Sepupu #4: Kok bisa sih?!
Sepupu #3: D-Dahsyat!!
Sepupu #1: Hah? Apanya yang dahsyat?
Sepupu #4: Liat lah! Itu kartunya semua As!!
Sepupu #3: *diam sebentar* …Oh iya, dahsyat lho!! Wooow!!
Semua: …TELAT BANGET!!
Di sana juga kami banyak bermain olahraga. Mulai dari badminton, pingpong (sempat diusir dari area pingpong karena terlalu berisik dan mengganggu seminar di lantai atas), sepak bola (sempet ketemu duren jatoh lho… untung gak ada yang ketiban), dan berenang.
Dua sepupu gw bahkan menemukan cara bermain sepak bola dan badminton sekaligus. Setelah tepok koknya, tendang bola oper ke lawan… Lawan memukul kok kembali, lalu pass bolanya… begitu selanjutnya. Nggak terlalu berhasil sih.
Saat main pingpong pun, ternyata kita semua nggak ada yang bener-bener bisa. Bolanya aja gak sempet bolak-balik lebih dari dua kali. Kita jadi capek gara-gara ngejar bolanya ngegelinding kesana kemari, bukan gara-gara main pingpongnya!
Lalu kita juga sempat main Flying Fox. Salah satu sepupu gw ternyata ada yang takut ketinggian. Ia tampak begitu gemetaran dan ngeri, sampai-sampai waktu sudah turun ia langsung mimisan! Saat naik ke atas, gw pun bertanya pada sodara gw yang lain, "Oke, siapa mau maju duluan?" dan hampir semua dari mereka menunjuk gw. Sial.
Saat meluncur, kami pun berusaha berteriak dengan cara sensasional seperti berteriak "CIP!!" "Toad!" "Mbeek!" "Kekuatan Kalsium!!" atau "Ya-Ha~!!" (ada yang tau ini reference ke komik apa?
).
Pada malam harinya, para orang tua berkaraoke lagu-lagu jadul. Kakak-kakak sepupu gw bermain billiard, ada juga yang bermain pingpong. Kita hanya menonton mereka sambil bermain-main dengan bola billiard yang sudah dimasukkan, hehe. (Contoh: Mengambil bola nomor 1,2, dan 3 lalu bernyanyi ’satu satu, aku sayang ibu…’ sambil memasukkannya kembali)
Saat perayaan ultah oma gw pun, para orang tua mengadakan lomba panco dengan hadiah cash untuk yang menang. Mulai dari orang tua sampai anak-anak dapat kesempatan untuk berpanco, biarpun banyak kecurangan dan ketidakadilan yang sempat terjadi.
Malam tiba dan waktunya tidur, tapi ‘jam malam’ tiap orang kan berbeda.
Ada tante gw yang dari jam 9 malam sudah ngomel-ngomel nyuruh tidur. Ada oma gw yang habis pesta selesai sudah terlelap di kamar dan akan bangun dan mengomel jika melihat sinar kecil dari handphone sekalipun. Ada para bapak-bapak yang masih nonton TV dan tertawa dengan begitu kencang sampai tengah malam. Ada yang melakukan ’saat teduh’ di kamar (biarpun gak teduh-teduh amat sih) sebelum tidur.
Masih ada anak-anak yang berlarian di luar, tidak peduli meski ada orang yang sudah tidur. Ada juga tante gw yang keluyuran waktu jam 2 pagi entah kemana. Lalu ada juga kakak sepupu yang tengah malam keluyuran buat telponan sama ‘yayang-nya’. Ada lagi yang nangis-nangis waktu tidur, dan ada juga yang masih asyik SMS-an di balik selimut secara diam-diam.
Empat puluh dua orang dalam satu rumah yang sama, sebuah pengalaman yang merepotkan tapi juga menarik. Gw bisa melihat karakter yang berbeda dari tiap-tiap orang keluarga gw dan rutinitas hidup mereka yang berbeda. Dibandingkan hari-hari libur gw sebelumnya yang kebanyakan dihabiskan di rumah sendirian ’siang malam selalu menatap layar terpaku untuk online, online’, bergaul dengan berbagai macam orang di sini membuat gw merasa lebih rileks dan senang biarpun capek juga.
Well, besok liburan gw officially berakhir dan gw bakal kembali ke sekolah. Gw dan teman-teman gw terpencar di berbagai kelas, tapi gw rasa itu nggak berarti kita nggak bakal tetep temenan kan? Buat teman-teman yang juga baru naik kelas, ayo kita hadapi tahun ajaran baru ini dengan penuh semangat! Yeah!!





