August 8, 2009
Tagged by Ani. Didn’t use the image template provided here because it’ll take ages to upload it, and it’ll slow down this page for the viewers. Well, anyway, let’s go!
***
Wether you live in a cave, tree, hole, box, or just a typical room, there’s a lot you can learn about a person by looking at where they live!
Nama boneka ini Dicho. Dia yang bakal memimpin lo pada dalam perjalanan di kamar gw. Btw, sebelum pada salah sangka, dia ini hamster, bukan babi.
1) Show us your bag and its contents.
Ada tisu, kotak pensil, notes, sisir, dompet, botol minum, earphone… dan Dicho.
2) Sweet. Now let’s see your bed.
"Permisi mbak Muba… mau numpang foto."
Yap, nama boneka Snoopy yang hampir selalu numpang tidur bersama gw di ranjang adalah si Muba.
3) How about your wardrobe? Show us your closet/dresser or just some clothes.

Ciluk baaa!
4) How about showing us where you are now? (No, I’m not stalking you… or am I?)

Siang malam ku selalu menatap layar terpaku, untuk online… online… (Loved Personas for Firefox anyway, especially the Foxkeh ones! So cutee!! <3)
5) The walls of a room can reveal a lot about the person who lives there. Let’s see them!

…Uh, it’s just an empty wall. So what can you say about me from that?
6) Any other cool things you’d like to share?
Yes, in case you don’t know, I’m a Snoopy fan!
7) Just for kicks, show us your pets. (If no pets, how about a plushie?)
SNOOPY~! Sebenernya sih gw punya kura-kura bernama si Uya, tapi males ah ngunjungin dia.
8) Cool. Now could you show me the exit? (That means your door)
Sampai jumpa!
Tag, you’re it!
Gijo, Karina, Priska, dan siapapun yang cukup rajin untuk mengerjakan.
Have fun with it!
July 8, 2009
Semoga teman-teman sekalian bisa baca tulisan acakadul kolaborasi Chelle dan
Gijo ini.
July 1, 2009
Lanjutan dari post yang kemarin. Duh, kok kayaknya gw jadi sering nulis postingan berseri begini ya? Hehe, habis kalo diembat semua dalam satu post bisa jadi panjang banget.
Pada hari kedua gw dan sodara-sodara gw di Jogja, kita bakal pergi ke candi lain yang kayaknya udah ’satu paket’ deh sama Borobudur, yaitu… Candi Prambanan!! FYI, lokasi kedua situs candi ini gak berdeketan lho (biarpun sama-sama di Jogja, duh). Jangan sampe kayak sepupu gw si Vian yang malah berkata, "Lho, gue kira candi Borobudur tuh letaknya ada pas di belakangnya candi Prambanan…"
Wajah-wajah nan loyo karena di sana lagi panas-panasnya dan silau banget man…
Perhatikan baju-baju yang kami pakai! Anda melihat sebuah ‘pattern’? Yap, setelah kami kemarin sudah bernorak-norak ria dengan dresscode baju warna merah, hari ini kami sepakat mengenakan baju "I <3 Jogja" yang kami borong di Malioboro kemarin! Hihi, tambah norak aja…
Kiri: Anak ilang.
Kanan: Dua cewek keren habis berhasil merubuhkan candi… *hoho, bo’ong abis*
Karena hari itu lagi oh-em-ji-PUANASS!!-banget, gw pun mengeluarkan kipas dari tas gw dan mule ngipas-ngipas sambil keliling liat-liat candi. Kipasnya tuh model kipas orang Cina jaman dulu gitu loch… Tiba-tiba saja ada yang noel-noel gw dari belakang. Waktu gw nengok, ada dua orang cewek gitu…
"Miss… Can we take a picture with you?" ucap yang satunya.
Hah?!?! Waduh, dalam rangka apa ini? Gw sih refleks langsung menolak, biasa, seleb… Satu diterima ntar fans yang lain pada ngiri semua. Halah! Huehehe… Sodara gw juga katanya digituin. Katanya kita dikira turis Jepang! Ya ampyun, harusnya tadi gw iseng ya sok-sokan ngomong Jepang sama sodara-sodara gw ala "konichiwa-sushi-teriyaki-nobita-doraemon-otaku" gitu, biar dikira turis Jepang beneran, hehe. (Tau-taunya malah ntar didatengin turis Jepang beneran baru nyaho…)
Di daerah situ juga ada rusa lho! Lucu-lucu, apalagi yang masih kecil. Para pengunjung boleh ngasi makan mereka dengan wortel yang sudah disediakan (gratis, in case you’re wondering) dan foto-foto (biarpun dihalangi pagar).

Dengan tatapan menuntut: "Mana wortel gue, turis!"
Setelah Candi Prambanan, our next stop is… Parangtritis. Pantai yang terkenal dengan Nyi Roro Kidul alias Ratu Pantai Selatan itu. Di sana kita disarankan nggak pake benda-benda yang berwarna hijau, takut nanti bisa dibawa ombak sama Nyi Roro Kidul katanya!
Sepupu gw Ricky percaya banget dengan cerita itu, sampe dia berdoa dulu komat-kamit waktu yang laen mau maen di pinggir pantai. Thomas bahkan sampe ngamuk-ngamuk waktu kita bilang mau main air di sana.

Kiri: "Semoga gue gak diseret sama Nyi Roro Kidul… Gue kan masih muda, cute, belum punya pacar lagi… Kalo mau si Vian aja yang diambil… Ya? Ya?"
Kanan: "Lihat, ada sapi terbang!!"

Tulisan gw di pasir, sebelum dan sesudah dihancurkan oleh kaki-kaki jahat :’(
Di situ airnya biru banget, pasirnya juga masih termasuk bersih, biarpun puanasnya minta ampunnn dahh. Waktu kita dateng lagi sepi, cuma ada beberapa turis lain, jadi kita bisa asyik deh main. Kita foto-foto, dan nulis-nulis di pasir setelah gw menemukan sebuah penemuan revolusioner: ranting kayu yang bisa dipake buat nulis-nulis tanpa bikin tangan kotor

Foto favorit gw di sana! *setelah berulang-ulang kali gagal motret*
Sayang, kita gak bisa berlama-lama di sana. Bahkan gak sempet main air! Sedihnya, ke pantai tapi badan gak basah sama sekali… Tante gw pun menghibur dengan bilang sebagai gantinya kita bisa berenang di hotel nanti. Anak-anak yang polos pun dengan mudah tertipu dan gembira kembali.
Nah, tujuan kami setelah itu adalah pabrik Coklat Monggo.
Pabriknya bukan pabrik gede yang banyak mesinnya gitu, jangan salah sangka. Tempat itu sederhana, dan orangnya nggak terlalu banyak, kerjaannya masih banyak yang dikerjain manual dengan tangan.
Anak-anak pun dengan heboh langsung berebutan saat disodorin senampan ‘sample‘ coklat. Waaa, ternyata enakkk!! Kita pun beli beberapa boks untuk dimakan selama perjalanan dan juga buat oleh-oleh. Nih, sampe sekarang aja di kamar gw masih ada beberapa bungkus coklat. Dari kemaren gw makan mlulu tuh coklat waktu bosen… Wah, lama-lama gw bisa jadi ndut.

Di sana, kita juga disodorin sebuah buku tamu (foto di pojok kanan bawah). Wuih, tentu saja kita langsung heboh buat mengisinya. Dibandingin halaman-halaman lain, punya kita yang paling rame dan… kacau, tentunya. Buat yang kapan-kapan mau ke Coklat Monggo, kalo menemukan halaman seperti gambar di atas, yaaa… itulah hasil karya kami.
Dipenuhi tulisan-tulisan seperti: "WE <3 JOGJA!", "Monggo is the best!", "Maap… pahit!", "Enak buanget…!!", "Banyakin tester!!!", tanda tangan, coretan abstrak, gambar hamster cacat, dan coretan-coretan tak jelas lainnya.
Setelah memborong coklat dan ngisi buku tamu, hari ternyata udah mau sore, jadi kita pun berangkat pulang. Sampe di hotel udah mau jam 6 gitu, tapi itu bukan alasan biar kami gak bisa berenang. Kemarin aja bisa, kenapa hari ini nggak? Let’s go swimming, guys!! Lagi-lagi kolam itu kita blokir jadi milik kita doang, yang laen cuma bisa numpang di pinggir karena takut ketendang ato ketiban kita-kita, hehe. Sorry, mister…
Malam itu, kita mau naik becak buat keliling-keliling. Tadinya sih mau andong, cuma lebih mahal dan jarang ketemunya. Karena kita orangnya banyak, jadi kita nyewa lima becak sekaligus. Asyiik, konvoi gitu deh kayak parade… hehe.
Naik becak di sini nggak perlu takut kayak naik kendaraan umum di Jakarta. Para pengemudi becak di Jogja itu tergabung dalam sebuah asosiasi yang namanya Asosiasi Paguyuban Becak Yogyakarta (Aspabeta). Jadi tiap pengemudi becak itu didata dan ada kartu identitasnya, jadi nggak perlu takut dibawa kabur oleh orang-orang cabul yang ngaku-ngaku jadi tukang becak. Mereka juga nggak bisa minta tarif seenak jidatnya.
Saat keliling-keliling, kami sempat dibawa mampir ke beberapa toko. Kebanyakan sih toko baju dan toko lukisan. Kadang kita ngelewatin gang-gang sempit bin gelap gitu (tante dan nyokap gw sempet ketakutan, tapi lagi-lagi sang pengemudi becak menenangkan mereka) atau lewat di tengah jalan raya.
Pengemudi becak gw pertama-tama mengayuh dengan penuh semangat seperti yang lainnya. Namun saat kami sudah menempuh sekitar setengah perjalanan, becak kami bergerak semakin lambat, bahkan sering tertinggal. Gw bersama Sella udah sempet was-was aja.
Saat tanjakan, si pengemudi becak itu mulai batuk-batuk, terkadang berhenti dulu untuk buang rehak. Kita menengok ke arah dia dengan kawathir, tapi ia terus melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya di pinggir jalan, ia tiba-tiba berhenti untuk bicara dengan seorang pengemudi becak yang lain.
"Saya udah nggak kuat," katanya lalu menunjuk ke becak temannya, "Adek-adek pindah ke sana aja ya."
Kita pun pindah aja ke becak satu lagi. Apa bapak itu akan baik-baik saja? Jangan-jangan dia sakit parah… Jangan-jangan gara-gara si Sella keberatan! *langsung digampar xD* Kita sampai di tempat tujuan dengan selamat, dan sodara gw yang lain gak ada yang nyadar kalo pengemudi becak gw ganti orang. Tante gw malah bilangnya, "Lho, kok becaknya berubah ya?".
Tapi syukurlah, keesokan harinya, kami melihat si pengemudi becak itu lagi, sudah nangkring di depan hotel kami dan tampak sehat…
Wah, petualangan kami di Jogja masih ada dua hari lagi!
June 27, 2009
Duh, maaf ya, kayaknya beberapa hari ini gw nelantarin Oh Crab! mulu… Lagi agak kena writer’s block nih >_<
Dari hari Senin kemarin, selama empat hari gw habis pergi ke Jogja sama keluarga. Kami berbondong-bondong sekitar 13 orang-an gitu nyewa minibus buat keliling-keliling tempat ini, hihi. Anak-anaknya ada 7 orang, yaitu:
- Gw, Chelle.
- Cella Cullen Culun yang seumur sama gw.
- Balviaan Alvian, cowok wajah mesum narsis yang lebih tua dari gw dan Cella sekitar dua tahun dan konon katanya senang menjomblo dan dalam proses hunting cewek.
- Nadya, adiknya yang masih SD. Tomboi dan rusuh.
- Ricky, si mbul yang lucu banget mukanya. Tapi kalo diajak jalan-jalan cepet protes pengen minta pulang.
- Thermos Thomas, adik Cella yang suka ayam dan ngomong "chip chip chip"… dan suka main DS. Jago maen Mario Kart terutama di track Rainbow Road. Menyimpan diari di hp-nya dan demen ngerakit PC.
- Aldi, satu paket dengan Ricky biarpun bentuk tubuhnya berbeda jauh (Ricky mbul bulet gitu, Aldi kecil kerempeng, huehehe). Biarpun usianya sama, dia keliatannya lebih mandiri.
Pada hari pertama, gw bangunnya agak telat jadi nyampe bandara juga agak telat. Hasilnya? Gw duduk di baris kedua dari paling belakang, nyokap di baris depan, kita terpencil kepisah sama sodara-sodara yang lain! Mana sebelah gw ada mas-mas bau rokok yang kerjaannya molor mulu… Untung di pesawat cuma 45 menitan.
Oh ya, pada hari itu, kami semua janjian memakai baju merah. Jadi kalau ada yang merasa pernah melihat gerombolan orang pake baju merah yang ribut bin norak banget di Borobudur hari itu, besar kemungkinan itu kami.
Sesampainya di Jogja, kita makan dulu, soalnya pada laper.
Gw: Sekarang kita mau kemana?
Tante gw: Oh, kita mau makan ayam goreng…
Gw: Ooooh… *ngebayangin makan ayam goreng khas Jogja di restoran kecil pinggir jalan*
Tante gw: Nah ini dah nyampe!
- Minibus berhenti di depan Hartz Chicken Buffet -
Gw: *gubrak!* Ini mah di Jakarta juga ada!!!
Tapi akhirnya kita nggak jadi makan di situ kok. Setelah acara makan-memakan, kita cao ke hotel buat naroh barang, lalu naik lagi ke minibus buat berangkat ke… Borobudur! Yoi lah, ke Jogja tapi kagak ke Borobodur kan aneh gitu, secara anak-anaknya di situ rata-rata pada belum pernah ke Jogja…
Di tengah jalan…
Aldi: Ci, di daerah sini banyak gedung peninggalan zaman Belanda ya?
Gw: Iya… Tuh liat, botol Yakult itu? Itu juga bekas peninggalan zaman Belanda!
Alvian: Betul! Trus papan tulisan "Toilet di sana" itu juga…
*siap-siap digampar para ahli sejarah*
Oh ya, ngomong-ngomong, di perjalanan ini gw tidak lupa membawa travel companion gw… Boneka hamster gw tercinta, Dicho!

Belom sempet upload foto Dicho yang lain, jadi yang ini aja lagi deh, hehe…
Ricky seneng banget begitu ngeliat boneka ini. Boneka ini dia peluk-peluk, dia lempar, dia gencet, dia main-mainin, dia cubit-cubit karena menurutnya Dicho lucu sekali. Thomas, Nadya, dan Aldi juga sering minjem si Dicho ini. Maka dari itulah, begitu pulang dari Jogja, gw pun langsung minta boneka ini dicuci. Jadi dekil begituu! Huhu…
Namun sedihnya, para tante gw gak pernah bisa menghafal nama boneka ini, bahkan nyokap gw sendiri! Mereka selalu nyebut dia entah Muco lah, Macho lah, Doco lah… Haiya, emang sesusah itu ya? ^^"
Di Borobudur, karena males jalan, kita pun naik mobil kereta yang disediakan di sana untuk langsung sampai ke depan area candinya. Lalu kita pun langsung foto-foto, lalu ‘mendaki’ candi itu buat mencari stupa yang konon katanya bisa membawa hoki jika bisa menyentuh patung Buddha di dalamnya.

Nggak, kita nggak lagi kampanye partai.
Stupa di sana ada banyak banget, tapi stupa yang dimaksud itu hanya satu. Untuk cowok, harus menyentuh jari manis patung Buddha itu. Untuk cewek, harus menyentuh tumit patung itu. Jika berhasil, katanya akan membawa rezeki.
Menyusuri berbagai stupa-stupa dan ukiran relief dan menaiki berpuluh-puluh anak tangga, akhirnya kami menemukan satu stupa yang dikerubungi turis mancanegara. Pasti yang ini! Kita pun ikutan nyelip-nyelip di antara kerumunan. Wadow, keliatannya susah juga nyentuh tumitnya… Kalo gampang semua orang juga dapet hoki yah? Huehehe…
Karena didorong-dorong orang dan sodara gw yang laen udah sempet nyentuh, akhirnya gw pun ikutan pergi tanpa sempet mengulurkan tangan ke dalam stupa itu.
Sesudah turun dari candi, tiba-tiba Nadya mimisan! Setelah mengistirahatkannya sebentar, kita pun kembali ke mobil untuk pregi ke Kaliurang buat ‘ngintip’ Gunung Merapi. Tapi di tengah jalan kita makan dulu (lagi, huehehe). Di sana, tempat makan kami ada di samping kolam yang bisa dipakai untuk mancing.
Saat enak-enak bersantai sambil main Poker nunggu makanan, tiba-tiba kami melihat sesuatu…
Seorang pria berjalan santai, lalu tiba-tiba berjongkok di samping kolam. Ia pun mencuci muka, tangan, dan kaki di sana, tepat di depan kami para tamu yang sedang menunggu dan juga yang sedang makan.
Tiba-tiba jiwa iseng sodara gw pun muncul. Ia pergi ke samping kolam, lalu ia pun… buang ludah. Si pria itu sempet nengok ke arah kita, tapi entah deh nyadar ato kagak, hehe… Maaf ya mas, bukan ulah saya itu…
Di Kaliurang, kita pun nyewa beberapa teropong (yang ternyata kurang berguna) lalu naik ke atas menara pandang untuk melihat pemandangan di sana. Lalu kami juga sempet ngeliat bunker di sana, yaitu tempat perlindungan bawah tanah dari letusan gunung berapi.
Kok gak keliatan ya Gunung Merapi-nya…
Ini dia bunker-nya…
Kami nggak berlama-lama di situ, karena anak-anak pada capek dan mau berenang di hotel (Ckckck, dasar…).
Begitu sampai di hotel, bener aja. Anak-anak langsung pada ngebut ke kamar buat ngambil baju renang. Karena gak mau ditinggal, gw pun ngikut. Mereka langsung turun ke bawah, menuju kolam (setelah sempet nyasar sebentar) laluuu… BYURRRR!!!
ALAMAK, DINGIN AMAT YA?!
Saat itu langit udah mulai gelap, uda sekitar jam 6-an. Pertama gw dah ragu buat berenang, takut masuk angin, tapi yang laen pada ngotot bilang gak apa-apa. Ya sutralah, ikut saja…
Sambil menggigil, gw menonton Ricky yang sedang asyik berlompatan dari pinggir kolam dengan berbagai macam gaya eksotis, Cella yang sedang mengajari Nadya mengapung, Aldi yang sedang mengejar Thomas yang mengambil gelangnya, dan Vian yang sedang main-main dengan selang air. Beberapa menit setelah kami memainkan selang itu untuk menciptakan ‘hujan buatan’, airnya dimatiin oleh staf kolam di sana. Huehehe, jadi malu…
Satu kolam itu terasa seperti teritori kami saja. Ada dua orang lagi sih selain kami, tapi mereka cuma mojok berdua aja di kolam kecil yang lebih cetek. Akhirnya hari semakin gelap dan kami mulai merasa kedinginan, jadi kami segera ngibrit balik ke kamar!
Malam itu kita semua ngerusuh di kamar gw. Maen DS (Multiplayer Mario Kart DS, game yang paling sering kita maenin), baca berbagai komik yang baru kita embat di Mal Malioboro seperti Salad Days, Eyeshield 21, Ippo!, dan Alive. Di mal itu juga kita sempet ngerusuh di Pizza Hut (ya ampun, lagi-lagi gw bikin ribut di Pizza Hut… di Jakarta, Bali, sekarang Jogja!), belanja oleh-oleh di sepanjang jalan untuk orang-orang terkasih, dan… foto-foto bak turis norak.
Capek juga, dan ini baru hari pertama…
May 28, 2009
Hard Rock, Rock Hard! Photo Session Time!
Pagi terakhir di Hard Rock, kita dapat waktu beberapa jam free time. Setelah bangun (dan rambut gw hasil blow kemarin sudah kembali mencuat-cuat kesana kemari seperti biasa) dan breakfast (…chocolate milknya enak lho!), kita pun pergi untuk… berfoto-foto. Berbekalkan kamera dan handphone, kita pun berkeliling hotel untuk mencari objek menarik. Kapan lagi bisa ke Hard Rock rame-rame begini?

Dari sederetan gitar memorabilia yang ada di sana, cuma satu nama yang gw kenal… Indra Lesmana. Okei, satu lagi sih, Sheila on 7.
Ntar gw coba dateng lagi ke Hard Rock pas gw udah tua, pajangannya diganti memorabilia dari eranya Muse, Linkin Park, Paramore, Avenged Sevenfold, Yellowcard, dkk… Nah, itu baru gw bakal ngiler fotonya! Mungkin kalo ada gitar Matthew Bellamy dipajang langsung gw colong dalam hitungan detik kali, muhahaha!

Salah satu foto odong yang tidak terlalu bisa dikenali apa maksudnya dan siapa modelnya.
Sella: Yuk, foto! Foto! Hmm, minta tolong siapa ya…
*Alvin lewat, muncul bagai sesosok pahlawan*
Sella: Nahhh, minta tolong Alvin aja! Vin, fotoin dong!
Maggie: Eh, ngga, gw aja yang fotoin…
Sella: Oh, ya udah deh Vin, gak jadi! Eh… Nggak deh, lu sini aja, ikutan foto!
Alvin: ??? *akhirnya ikutan juga*
Dan masih ada lagi kok, nggak cuma itu doang. Tapi rasanya pada gak tertarik ya? Hohoho…
Tattoo You?
Setelah foto-foto selesai dan sempet main kartu balap kuda di lobby hotel, kita pergi jalan-jalan lagi. Tujuannya: tato dan nail art! Gw sih maunya tato aja, tapi beberapa mau nail art juga. Kita pun berpetualang dari ujung jalan ke ujung jalan lain untuk mencari tato yang termurah dan tampak menyakinkan.
Cilla dan Hilly mencari tato-tato yang tampak ‘macho’ dan agak menyeramkan (tengkorak, kalajengking, pocong, bajaj terbang, dst dst) sementara gw nyari yang simple dan gak ribet aja. Magi-chan, Sella, dan Nikol tato di tangan kayak hiasan-hiasan bunga-bunga gitu. Cilla juga, tapi dia protes gara-gara ada kupu-kupunya jadi keliatan feminim banget. Lalu Kum-kum tato kayak naga gitu. Kalo nggak salah Cilla juga tato di kakinya sesuatu yang seperti dinosaurus terbang deh.
…Got Bucks?
Setelah ngerusuh di Pizza Hut (yeah, another Pizza Hut!) waktu makan siang, kita menghabiskan waktu buat cari tongkrongan lain… Starbucks. Maaf, numpang ngerusuh sebentar!
Kata Nikol suara kita ampe kedengeran jelas di lantai bawah (Oops!)…
Oh ya, di Pizza Hut, Dicho mendapat teman baru lagi: Bao Bei milik Grace!

Gw: Sella, mau minum gak? *nawarin minum gw… fyi, it was mocca frapuccino*
Sella: Ah, nggak deh.
Gw: Oh, okei…
*kita lanjut ngobrol-ngobrol*
Sella: *langsung ngambil gelas gw lalu minum dengan enaknya seolah nggak terjadi apa-apa*
Sella: …Napa?
Cilla: *goncang-goncangin Gijo* Oi, oi!
Gijo: Cill, bisa gak sih kalo manggil orang nepok sekali aja?
Cilla: Uh okei… Kayak gini? *Nabok bahu Gijo beberapa kali* Oi, oi!
Gijo: Adooohhh! Lu gak bisa bedain nepok sama nabok yaaa?! *Nyontohin ke tangan Cilla*
Kum-kum: Ada ya, orang nepok aja harus diajarin…
Gw: Yaaa, Cilla kan juga masih belajar jalan! (Referensi untuk sebuah kejadian lain yang berhubungan dengan guru fisika kami)
Setelah nongkrong beberapa lama dan menyadari betapa menganggunya kami, kami pun keluar. Tanpa disadari, sudah waktunya berkumpul untuk naik bus dan berangkat ke airport.
Di airport, kita nunggu selama beberapa jam. Di sana gw membeli dua buku (there goes my money again…) yaitu The Pact by Jodi Picoult dan Like the Flowing River by Paulo Coelho. Saat ini dua buku itu telah gw selesaikan. Gw suka banget tulisan-tulisannya Paulo Coelho, dan sedangkan untuk The Pact… gw nggak terlalu terkesan sih, tapi lumayan lah.
Gw: Sella… Duit lu sisa berapa?
Sella: Masih ada lumayan sih… Lu?
Gw: …Duit gw tinggal empat ribu, Sel.
Sella: HAH?! ODONG ABIS LU! Dipake buat apa aja?!
Gw: Gak tau…
Nikol: Ayo, coba inget-inget Chel…
Gw: Oh myyy!!! Ternyata masih keselip selembar goceng!!! Duit gw gak jadi sisa empat ribu doang… TAPI ADA SEMBILAN RIBUUU!!!! YAAAYYY!!!
Sella: …Odong ah lu, Chel.
Dan dari detik inilah Sella menjadi Queen of Odong, kedondong, puser bodong and kacang polong yang mempelopori penggunaan kata Odong di antara kami.
Sella: Nikol, cepeceng lu ada brapa?
Nikol: Dua… eh, cepeceng tuh berapa sih?
Sella dan gw: !@#$%
Akhirnya tiba juga waktu boarding pesawat kami. Di pesawat sempat terjadi keributan lagi karena pada tukar-tukar tempat duduk (dan bikin para pramugari kewalahan lagi… maaf ya…), dan gw malah jadi nyasar duduk di tempat asing dan di sebelah guru.
Pesawat mulai bergerak maju, dan akhirnya lepas landas untuk membawa kami pulang ke Jakarta. Gw memejamkan mata, karena gw denger dari bokap waktu pesawat takeoff tuh waktu paling enak buat tidur. Waktunya kami pulang ke habitat rumah kami masing-masing.
Selamat tinggal Bali, terima kasih untuk waktu lima hari yang menyenangkan ini…
Every party will always have an end, and it’s the end of this one… (halah)

Biarlah foto ini mengakhiri serial Odong Days ini…
Dicho dan Si Duck!
<< Older Posts