September 1, 2009

50 Books!

Filed under: Review

   Whoa, akhirnya gw selesai juga mencapai target gw - membaca 50 buku dalam tahun ini! Awalnya gw kira bakal selesainya pas-pasan akhir tahun atau malah nggak keburu, tapi ternyata berhasil juga. Karena tahun ini masih panjang, kayaknya bakal gw extend goal-nya jadi 70 aja kali ya, hohoho.

   Anyway, karena gw nggak sempet buat bikin review untuk setiap buku, gw list aja ya 50 buku yang udah gw baca ya. Review buat 20 buku pertama bisa diliat di kategori Review. Yang di-bold adalah buku-buku yang gw suka. Let’s go!

1. The Maling of Kolor, Roy Saputra - 6 Jan

2. P.S. I Love You, Cecelia Ahern - 8 Jan

3. And Then There Were None, Agatha Christie - 9 Jan

4. Penyunting Sinting, Gari Rakai Sambu - 9 Jan

5. Ketika Daun Bercerita, Maradilla Syachridar - 13 Jan

6. The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe, C.S. Lewis - 18 Jan

7. Mr.Clarinet (Voodoo), Nick Stone - 22 Jan

8. Glam Girls, Nina Ardianti - 26 Jan

9. Piano di Kotak Kaca, Agnes Jessica - 1 Feb

10. The Hobbit, J.R.R. Tolkien - 11 Feb

11. Since I Don’t Have You, Louise Candlish - 1 Mar

12. A Cat in My Eyes: K, Fahd Djibran - 8 Mar

13. Slipping Into Darkness (versi terjemahan: The Devil’s DNA), Peter Blauner - 14 Mar

14. Reputation, Tessa Intanya - 18 Mar

15. Look Me in the Eye, John Elder Robison - 23 Mar

16. The Boy Who Ate Stars, Kochka - 24 Mar

17. Ciao Italia! : Catatan Petualangan Empat Musim, Gama Harjono - 27 Mar

18. Best of the Best, Luna Torashyngu - 27 Mar

19. My Stupid Boss, Chaos@Work - 28 Mar

20. Travelers’ Tale; Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita - 31 Mar

21. Nobody’s Perfect, Stephanie Zen - 14 May

22. Yakuza Moon, Shoko Tendo - 15 May

23. Incognito, Windhy Puspitadewi - 16 May

24. The Pact, Jodi Picoult - 28 May

25. Like the Flowing River, Paulo Coelho - 28 May

26. Magical Seira: Seira & the Legend of Madriva, Sitta Karina - 30 May

27. The Witch of Portobello, Paulo Coelho - 17 June

28. Valentine Sweetcase, Astri Adhe - 21 June

29. Remember Me?, Sophie Kinsella - 25 June

30. Uomo Grigio: Cowok Abu-abu, Venny.L - 27 June

31. 57 Detik, Ken Terate - 28 June

32. Boy Hunter, Hilda Aprianti - 2 July

33. The Sky is Crazy, Yvonne Lee - 3 July

34. Rahasia, Valleria Verawati - 4 July

35. The Alchemist, Paulo Coelho - 7 July

36. The Five People You Meet in Heaven, Mitch Albom - 13 July

37. Nggak Usah Jaim Deh!, Valleria Verawati - 15 July

38. The Boyfriend League, Rachel Hawthorne - 18 July

39. Thrill Ride, Rachel Hawthorne - 19 July

40. First Kisses: It Had to Be You, Sabrina Jordan - 20 July

41. The Book of Lost Things, John Conolly- 31 July

42. Marley & Me, John Grogan - 10 August

43. The Umbrella Man and Other Stories, Roald Dahl - 11 August

44. The Life of Pi, Yann Martel - 14 August

45. For One More Day, Mitch Albom - 16 August

46. Magnificent, aL Dhimas - 17 August

47. Gallagher Girls: I’d Tell You I Love You, But Then I’d Have to Kill You, Ally Carter - 20 August

48. Jejak Darah, Chris X - 22 August

49. A Walk to Remember, Nicholas Sparks - 28 August

50. Misery, Stephen King (Penguin Readers version) - 1 September

   Well, that’s it. Maap ya, gw gak sempet nulis review… huhu. Tapi setidaknya, semoga rekomendasi gw bisa bermanfaat ;) Ada yang pernah baca buku yang ada di atas? Boleh sharing pendapatnya… hohoho.

June 18, 2009

Laaaa-miiii-aaaa…

Filed under: Daily Moments, Review

   Dari judul di atas, apakah sudah ada yang bisa menebak post ini tentang apa?

   Buat yang udah nonton film tersebut, atau setidaknya nonton trailernya pasti udah tau. Buat yang belum tau dan gak ngeh gw ngomongin apaan, biar gw kasi tau. We’re talking about… Drag Me to Hell.

Ini dia posternya. "Christine Brown has a good job, a great boyfriend, and a bright future. But in three days, she’s going to hell."

Remember, Curiosity Kills the Cat

   Sebelumnya, gw sih udah diceritain dari beberapa temen lain yang udah nonton, dan responnya sih nggak terlalu bagus, seperti:

"JELEK! serem kaga, jijik iyaa" - Iphin

"Gila bisanya ngagetin dwank! Wa aj treak, kaget! Lg tenang" tyap menit muncul, laguna ganti. Steven bilang ‘adoh baru 1menit’. Tp bags critana. Endingna bodoh abis" - Dino

"hahhaha.. serem plus jijik chel ! ada muntah2an segala, isi perut lah, trus setples2an muka lah.. jijik lah pokoknyaa.." - Priska

   …dan lain-lainnya. Namun biarpun gitu, tetep aja gw penasaran dan pengen buktiin dengan cara nonton sendiri. Dan ternyata beberapa temen gw yang belum nonton juga begitu.

   Jadilah hari ini gw, Cilla, Sella, Gijo, beserta seorang bodyguard merangkap kameramen dadakan yang dipungut Sella entah dari mana yang bernama Jason pergi bersama-sama untuk menyaksikan film ini. Eh, tapi Gijo nggak ikut nonton sih, dia malah pergi nonton 17 Again sendirian. Ya ampun, kasihan betul kau nak.

   (Bingung juga gw, lebih kasian 4 orang nonton rame-rame ketakutan tereak-tereak sport jantung dengan histeris ato yang nonton sendirian tapi adem ayem asyik ngeliatin Zac Efron?)

The Movie Itself?

   Ni pelem sebenernya tentang apa sih? *spoiler ahead!*

   Oke, jadi di film ini ada seorang bernama Christine Brown. Doi adalah seorang pegawai kredit bank yang sukses ("ceweknya cakep!" kutipan dari Christopher tentang film ini) dan mempunyai seorang kekasih yang baik hati (tapi nggak cakep sih). Good career, great boyfriend, happy life, what more can she ask for?

   Namun semuanya hancur berantakan saat seorang nenek gipsi tua mendatanginya di kantor dan meminta perpanjangan kredit. Nenek lusuh ini nyeremin banget, liat aja kukunya yang panjang bin kotor dan sorot matanya itu. Dan doi juga menjijikkan abis, contohnya waktu dia ngelepas gigi palsunya di atas sapu tangannya yang jorok buat ngemut permen di meja Christine.

Note to self #1: Jangan taruh permen sembarangan di atas meja kerja.

   Sebenernya Christine bisa aja ngasih perpanjangan kredit, tapi karena memikirkan kemungkinan kenaikan jabatan, ia memutuskan untuk menolak permohonan sang nenek bernama Ganush itu. Oma Ganush pun kecewa dan terus memohon pada Christine, sampai berlutut dan menciumi rok Christine.

   Christine yang panik pun langsung berteriak memanggil sekuriti. Sang nenek terjatuh, dan mereka menjadi tontonan semua orang. Sebelum dibawa keluar oleh para sekuriti, oma Ganush pun berfirman kepada Christine dengan penuh amarah:

"…You shamed me. I begged you, and you shamed me…" 

Note to self #2: Jangan menolak permohonan kredit seorang gipsi. Berat hukumannya.

   Malamnya, saat Christine pergi ke parkiran tempat mobilnya berada, ia melihat mobil oma Ganush. Saat ia masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja nenek ajaib itu sudah ada di belakangnya dan siap menyerangnya! Pertarungan sengit pun tidak terelakkan.

   Oma Ganush menerjang Christine, lalu menjambaknya.

   Christine berteriak tak karuan, meraih sebuah staples, dan menghajar oma Ganush.

   Oma Ganush mengerang kesakitan, tapi tidak menyerah. Yak, beliau terus menghajar Christine! Christine pun tidak mau menyerah dan menghajarnya lagi dengan staples! Bullseye to the eye! Ouch, pasti sakit banget tuh oma Ganush…

   Setelah perkelahian yang melibatkan lepasnya gigi palsu, ciuman menjijikkan dari oma Ganush untuk Christine, tabrak-tabrakan, tawa Christine untuk kemenangannya sejenak - "Haha, I beat you, you old bitch!", dan adegan-adegan yang tidak enak dilihat lainnya, oma Ganush akhirnya berhasil memecahkan kaca jendela mobil Christine dan menyeretnya keluar.

Note to self #3: Tempat parkir adalah salah satu tempat paling rawan untuk adegan horor, selain rumah kosong atau kamar mandi. Dan ternyata, staples dapat menjadi sebuah senjata yang sangat berguna!

   Kemudian Ganush pun melepaskan sebuah kancing secara paksa dari baju Christine. Ia pun mengangkatnya tinggi bagaikan baru saja mendapatkan piala Oscar, dan mengucapkan "Laa…. Mii… A…". Setelah itu, ia pun mengembalikannya ke tangan Christine.

"…Soon, it will be you who comes begging to me."

   Sejak hari itu, kehidupan Christine berubah tidak karuan. Ia telah dikutuk dan dihantui oleh setan bernama Lamia (Yap, Lamia adalah nama iblis di film ini, bukan nama merk makanan yang menjadi sponsor!) yang akan mengganggunya selama tiga hari, kemudian akan menyeretnya ke nereka, seperti judul filmnya.

   Christine menjadi depresi. Hidupnya kacau balau dan ia terus mengalami kejadian-kejadian aneh. Mata Ganush muncul dari ‘harvest cake’nya, Ganush menyerangnya di gudang atau memuntahinya dengan mahkluk-mahkluk menjijikkan, lalat keluar dari mulutnya saat makan malam dengan keluarga Clay, sesuatu kekuatan tak terlihat melemparnya dan menggerakkan barang-barang di rumahnya, ia mimisan tiba-tiba sampai ‘muncrat’ ke bosnya, dan lain-lainnya.

   Karirnya hancur, orang tua kekasihnya menganggapnya gila, dan dalam hitungan hari ia akan ditarik ke neraka.

   *Spoiler ahead! Buat yang cuma mau baca ringkasan kira-kira filmnya seperti apa, bisa lewatin bagian selanjutnya dan mungkin loncat ke bagian akhir*

   Tidak tahan, Christine pun berusaha mencari solusi. Ia membunuh kucingnya sebagai ‘korban’ - "Here, kitty, kitty…", mendatangi rumah Ganush (yang ternyata sudah meninggal! Dan bahkan sesudah meninggal pun ia masih sempat menjambak, menciumi Christine dan juga membanjirinya dengan cairan yang… euhhh banget), juga berkonsultasi dengan peramal India bernama Rham Jas.

   Akhirnya ia meminta tolong Shaun San Dena, yang sudah pernah berhadapan dengan Lamia sebelumnya. Namun rencana mereka semula untuk memperangkap jiwa Lamia ke dalam seekor kambing lalu membunuhnya gagal. Lamia merasuki asisten San Dena dan menyerang semua yang ada di ruangan itu. (Waktu nonton bagian San Dena komat-kamit mantra, gw malah gangguin Cilla sambil ngikut-ngikutin ‘tuuu naaa beee’ ato apalah itu yang dia omongin :P )

   Pada akhirnya, San Dena berhasil mengusir Lamia, biarpun perjuangan itu mengambil nyawanya. (Sella malah berkomentar, "Untung ngusir dulu, baru mati dia! Coba kalo dia mati duluan, tamat dong filmnya!")

Note to self #4: Ingat, tidak ada film horor yang berakhir semudah itu. Sang tokoh utama tidak akan dibiarkan bersenang-senang begitu saja.

   Saat Christine merasa sudah bisa menarik nafas lega, Rham Jas malah menjelaskan satu hal lagi. Untuk benar-benar menghilangkan kutukan itu darinya, ia harus memberikan kancingnya yang sudah dikutuk pada orang lain. Christine pun kembali bimbang dengan pilihan siapakah yang pantas menerima hukuman ‘be dragged to hell’ ini.

   Pertama ia ingin memberikannya pada seorang kakek-kakek di kafe, tapi saat melihat istrinya datang membawakan kue dan ber’oh-so-sweet’ ria, ia pun jadi tidak tega. Lalu ia ingin memberikannya pada Stu yang merupakan saingannya untuk menjadi asisten manajer di kantornya, tapi akhirnya ia pun tidak tega.

   Akhirnya, ia pun terpikir sebuah ide brilian. Seseorang yang memang pantas untuk menerima hukuman seperti itu.

   Oma Ganush.

   Ia pun pergi ke kuburan di tengah hujan badai untuk menggali kembali lubang kubur Ganush. Dengan susah payah ia pun akhirnya berhasil ‘menjejelkan’ amplop berisi kancing itu ke dalam mulut mayat Ganush (yang lagi-lagi, masih bisa-bisanya saja menjambak rambut Christine!). Fajar pun tiba, ia pun menarik nafas lega dan menganggap semuanya telah berakhir.

Note to self #5: Ingat lagi note to self #4.

   Keesokan harinya, ia pun menjalani kembali hidupnya dengan bahagia. Ia berangkat ke stasiun untuk pergi bertamasya dengan kekasihnya, membeli pakaian baru, dan mendapat promosi di kantornya. Hidup kembali indah bagi Christine, sampai ia bertemu Clay dan ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.

   Sebuah amplop yang tampak familiar.

Note to self #6: Selalu cek barang bawaan anda dengan teliti sebelum meninggalkan suatu tempat. Barang rusak atau hilang bukan tanggung jawab pemilik tempat tersebut.

   …berisi sebuah kancing. Kancing milik Christine. Amplopnya ternyata telah tertukar dengan amplop Clay kemarin! Christine pun langsung panik dan saking ketakutannya, ia pun terjatuh ke rel kereta api. Sebelum Clay sempat menolongnya, tiba-tiba tanah di bawah Christine terbuka. Kemudian beberapa tangan muncul dari tanah dan menariknya pergi… ke neraka.

So, How’s That?

   Seperti yang dikatakan temen-temen gw. Film ini nggak serem-serem amat sebetulnya, dan alur ceritanya cukup mudah ditebak. (Contohnya gw berhasil menebak ending film ini dengan sukses dan Cilla bisa menebak Christine akan berhalusinasi mata Ganush bakal nongol di cake-nya) Malahan kadang-kadang horornya kerasa konyol ato bahkan jayus.

   Cuma beberapa adegan di film ini yang gross abis, alias super menjijikkan sampe bikin kita ngumpet di balik tas dan dompet waktu nonton. Dan juga ngagetin banget. Apalagi musiknya itu bikin perasaan nggak enak banget… (terutama bagian-bagian musik yang pake biola… mantap deuh) dan sound effect yang ngagetinnya bisa bikin kita jumpalitan dari kursi sampe bikin popcorn beroncatan. Kalo nonton rame-rame  lebih seru jadinya, haha.

   Tidak cocok untuk yang berjantung lemah atau gampang muntah, tapi sebenarnya secara keseluruhan film ini lumayan kok…

May 16, 2009

2/5 of Goal…

Filed under: Review
   Bagian pertamanya ada di sini. Sebenernya gw udah baca 12 buku lagi (jadi total udah baca 22 dari target gw yaitu 50), tapi gw belum sempet nulis review buat tiga buku, jadi gw post seadanya aja.

   Gw emang bukan reviewer handal yang bisa menilai baik kelebihan dan kekurangan suatu buku dan mungkin kadang komentar gw terlalu naif dan kekanakan, tapi apa yang gw mau lakukan adalah gw ingin berusaha menjelaskan pendapat gw tentang masing-masing buku itu. Semoga saja bisa bermanfaat buat temen-temen semua yang juga suka baca buku. Enjoy!
 
11. Since I Don’t Have You, Louise Candlish - 1 Mar
Ringkasan: Rachel, Mariel, dan Jen adalah tiga orang sahabat baik, dan anak-anak dari mereka bertiga pun berteman baik. Mereka berjanji bahwa jika terjadi ’sesuatu’ pada salah satu dari mereka, yang lainnya akan menjaga anaknya seperti halnya mereka menjaga anaknya sendiri. Tapi sebuah tragedi yang tidak terbayangkan terjadi, Rachel pun meninggalkan teman-teman dan suaminya lalu pergi ke Santorini di Yunani untuk memulai awal yang baru.

Sama-sama bertema tentang proses pemulihan seseorang yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dikasihinya, buku ini sekilas membuat gw ingat pada P.S. I Love You. Tapi tidak masalah, ini adalah sebuah buku yang benar-benar berbeda.

Ceritanya menyentuh dan deskripsinya mengena, seperti tentang perasaan Rachel yang begitu kehilangan dan tentang indahnya pemandangan Santorini. Urutan ceritanya yang sering berputar-putar kadang membingungkan, tapi secara keseluruhan buku ini telah ditulis dengan baik.

Gw bisa lebih mudah mengerti perasaan Rachel dibandingkan tokoh Holly dari P.S. I Love You yang menurut gw kadang terasa ‘menyebalkan’. Karena bagi gw lebih mudah mengerti perasaan seorang ibu dibandingkan seorang istri.

Sambil membaca buku ini, gw pun memikirkan tentang hubungan gw dengan teman-teman dan keluarga gw… dan seperti biasa, sempet bikin gw hampir nangis bombay termehek-mehek lagi, hehe.

Gw kesulitan untuk memilih satu quote dari buku ini. Jadi biarkanlah gw mengambil tiga.

Quote: "I know you expected to live on in her, but what you have to remember is that she is living on in you."

"If being annoying was a cause for breakup, there’d be no couples left."

"The thread between us was as slight as spider’s silk, but it was a thread I was not yet ready to break."

12. A Cat in My Eyes: K, Fahd Djibran - 8 Mar
Ringkasan: Gw rada bingung memberi ringkasan untuk buku ini. Oke, gw bilang saja ini adalah "buku tentang pertanyaan-pertanyaan dalam hidup".

Pertama-tama, gw harus bilang kalau gw tertarik untuk membaca pertama-tama karena tampilan luar bukunya. Covernya menarik, ukuran dan layout bukunya juga pas dan kualitas kertasnya juga oke. Dan… kebetulan lagi diskon, hehe.

Buku ini entah bagaimana mengingatkan gw pada buku "Mimpi-mimpi Einstein" (Einstein’s Dreams) yang pernah gw baca dulu. Potongan-potongan cerita yang sebenarnya tidak nyambung satu sama lain, tapi mempunyai ‘tema’ yang sama yang sedang mempertanyakan sesuatu.

Tulisan-tulisan di buku ini bervariasi, jadi kadang kita akan membaca yang panjangnya 20 halamanan (contoh: Fragmen Malam), atau bisa yang cuma 3 baris (contoh: Membencimu).

Gw sendiri bukanlah tipe orang yang ‘filsafat’-nya dalam, jadi gw mengalami kesulitan untuk benar-benar mengerti maksud dari beberapa tulisan di buku ini. Tapi tidak masalah, gw masih tetap bisa menikmatinya.

Buku ini membuat kita berpikir dan ikut bertanya-tanya juga tentang hal-hal sederhana yang selama ini kita terima saja apa adanya. Biarpun gw menghabiskannya dalam satu malam, gw rasa gw akan tetap membaca ulang buku ini berkali-kali.

Hmm, lagi-lagi gw kesulitan untuk memilih satu quote dari buku ini. Jadi gw bakal ambil tiga (lagi).

Quote: "Andai dunia ini serupa. Dunia tentu kesepian. Stagnan. Tak ada persilangan. Tak ada warna yang lain. Tak ada suara yang lain. Semua suara adalah bunyi yang sama. Setiap warna sama saja. Tak ada perbedaan. Jadi, tentu saja: tak ada harmoni. Monokrom. Membosankan, bukan?"

"…jika kau melihat orang gila di pinggir jalan- kumal, kotot, bau, tak wajar, tak seperti kita, bagaimana orang itu berpersepsi atas dirimu? Adakah ia tahu kalau dirinya gila, sementara kau tidak? Atau, jika dia justru berpersepsi bahwa dirinyalah yang waras sementara kau gila, siapakah sesungguhnya orang gilanya? Kau atau dia?"

"Bukankah Romeo tidak mendefinisikan cinta terlebih dahulu untuk bisa mencintai Juliet? …Cinta adalah jawaban, Zira. Bukan pertanyaan."

13. Slipping Into Darkness (versi terjemahan: The Devil’s DNA), Peter Blauner - 14 Mar
Ringkasan: Julian "Hoolian" Vega yang masih 17 tahun didakwa telah membunuh seorang dokter wanita bernama Allison Wallis. Francis X. Loughlin adalah detektif yang menyelidiki tentang kasus ini. 20 tahun kemudian setelah Hoolian akhirnya dibebaskan, Francis kembali menangani kasus pembunuhan seorang dokter wanita. Saat mereka menemukan DNA Allison Wallis di bawah kuku korban, para polisi mulai mempertanyakan: apakah mereka selama ini telah menjebloskan orang yang tak bersalah ke dalam penjara?

Ini bukanlah tipe buku thriller kriminal di mana ada seorang pembunuh misterius yang berkeliaran membunuh korban satu-persatu dengan sadis, lalu ada seorang detektif berusaha menangkapnya sebelum korban lain berjatuhan. Bukanlah sebuah buku di mana begitu jelas kubu ‘hitam’ dan ‘putih’nya, tetapi lebih pada bagian ‘abu-abu’.

Hal yang paling menarik dari Slipping Into Darkness adalah character development-nya. Dua tokoh utama cerita ini adalah Hoolian, si pria tak bersalah yang harus kehilangan 20 tahun hidupnya di penjara dan ingin membersihkan nama baiknya, dan Francis, si detektif yang mempunyai ego yang terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya dan berusaha mengerjakan pekerjaannya sebaik-baiknya.

Penceritaannya berganti-ganti antara kejadian yang dialami Francis dan Hoolian, sehingga kita mengenal sama banyaknya mengenai kedua karakter itu. Membuat kita merasa empati dengan nasib Hoolian yang kesulitan melanjutkan hidupnya seperti orang biasa, dan dengan Francis yang mulai tua dan mulai kehilangan pengelihatannya dan berusaha mencari kebenaran.

Peter Blauner dapat menjaga ’suspense’ sampai halaman-halaman akhir buku ini lewat karakter-karakternya yang begitu hidup dan pilihan-pilihan katanya, sehingga kita selalu merasa ingin terus melanjutkan membaca.

Quote: "Kenapa aku harus menghapus garis yang salah? …Dalam hidup, kau tak menghapus kesalahan."

14. Reputation, Tessa Intanya - 18 Mar

Ringkasan: Sekuel dari Glam Girls karangan Nina Ardianti. Kali ini ditulis dari sudut pandang Rashi, the most popular girl in VIS dan sang bos dari ‘the clique’ yang senang bersilat lidah dengan orang lain. Siapa bilang cewek populer hidupnya selalu bahagia? Sebuah blog yang menjelek-jelekkan dirinya dan teman-temannya, ibu yang menyebalkan, ayah yang sakit-sakitan, dan pacar yang menuntut. Masih bisa bilang begitu?

Masih seputar lika-liku kehidupan cewek-cewek remaja ‘glamor’: so-called ‘BFFs’, traitors, guys, gossips, shopping, bitching around, drama, cat-fighting, more shopping, dating, more bitching around, and more gossiping. Gaya penulisannya pun masih serupa, dengan (lebih) banyak kalimat Inggris dan nama merk diselipkan di sana-sini, hampir setiap lima baris ada kali ya…

Biarpun gw kadang merasa kurang suka pada karakter Ad di buku Glam Girls, sepertinya gw harus menarik ucapan gw. Rashi dengan ucapannya dan tindak-tanduknya yang selalu merasa superior dan tidak mau mengalah jauh lebih mengesalkan, haha. Well, that’s what makes Rashi is Rashi…

Malah Ad di buku ini justru terasa sebagai ’sang waras’ yang berusaha untuk mengembalikan the devil to the ‘right way’ (which fails, of course…). Di buku ini ada juga seorang tokoh yang selalu gw tunggu-tunggu kehadirannya: Arian :P Hope to hear more from him in the next book!

Namun secara keseluruhan, buku kedua Glam Girls series ini tetap menarik, ringan, dan menghibur kok.

Dan dari buku pertama, gw masih belum juga terlalu tertarik dengan karakter May. Nah, karena buku selanjutnya akan ditulis dari sudut pandang doi, gw jadi lebih tertarik untuk menunggu buku ketiganya Glam Girls nanti - Unbelievable. (Menurut gw sih desain covernya rada norak warnanya dan kurang matching dengan dua pendahulunya, but maybe that’s just me.)

Quote: "’Having one boyfriend is called monogamy. Having two boyfriends is called… (rhymes with witch).’"

15. Look Me in the Eye, John Elder Robison - 23 Mar

Ringkasan: Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis oleh John Elder Robison, seorang Aspergian - bentuk ringan dari autisme. Ia sangatlah pintar dalam urusan mesin, elektronik, dan kalkulasi matematika, tetapi ia mendapat kesulitan untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain. Di buku ini ia menceritakan perjuangan-perjuangannya dalam hidupnya agar bisa diterima oleh orang lain dan dapat melakukan hal yang ia sukai.

Sesuai dengan karakter seorang Aspergian, gaya bahasa dalam buku ini ditulis dengan logis, jujur, dan blak-blakan. Lucu, menghibur, dan membuat kita berpikir. Kita jadi lebih tahu tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh seorang Aspergian (atau autis) dan rasakan tentang hal-hal di sekitarnya.

Pemikirannya menarik dan tingkahnya lucu untuk dibaca. Contohnya seperti saat ia membuat bubuk narkoba palsu yang akhirnya malah dicuri oleh bosnya, atau saat ia berpikir keras hanya untuk menjawab pernyataan basa-basi sederhana dari temannya. Gw sering terkekeh sendiri saat membaca buku ini.

Gw juga kagum pada sosok Robison. Tentang pemikirannya yang unik, kemampuannya dalam bidang mesin, dan semangatnya yang pantang menyerah. Meskipun ia mengalami banyak kesulitan dalam kehidupannya, ia selalu berjuang. Pada akhirnya, ia pun berhasil mengalahkan kekurangan-kekurangannya dan menjadi orang yang sukses.

Ini adalah salah satu buku yang sebenernya gw pengen baca dalam bahasa Inggris, tapi apa daya udah dibeli waktu lagi diskon dan udah dibaca abis :(

Quote: "Kebanyakan deskripsi tentang autisme dan Asperger menggambarkan orang sepertiku sebagai "tidak menginginkan kontak dengan orang lain" atau "lebih suka bermain sendiri". Aku tidak bisa berbicara atas nama yang lain, tapi aku ingin menjelaskan perasaanku sendiri: aku tidak pernah ingin sendirian. …Aku bermain sendiri karena aku gagal untuk bermain dengan yang lain."

""Sering kali pada waktu siang aku meneleponnya dan berkata, "Woof! Kau suka pada pasanganmu?"
"Ya, aku menyukaimu," katanya.
Satu jam kemudian, aku pasti sudah lupa karena aku menelepon lagi dan berkata "Woof! Kau suka pada pasanganmu?"
"Ya, aku masih menyukaimu," ia meyakinkanku kembali.""

16. The Boy Who Ate Stars, Kochka - 24 Mar
Ringkasan: Lucy, seorang gadis berusia 12 tahun pindah rumah. Di flat barunya, ia bertemu dengan Marie yang ramah dan penyayang, anaknya yang autis - Matthew, dan Maougo, seorang penjaga anak dari Rusia yang pendiam dan misterius. Sejak bertemu dengan Matthew, Lucy merasa sangat tertarik dan ia bertekad untuk berusaha tahu lebih banyak lagi tentangnya.

Waktu pertama dipinjamkan buku ini, gw rada ragu karena melihat tebalnya yang cuma 104 halaman. Tapi ternyata isinya menghibur dan ringan, meskipun topik autisme sebenarnya adalah topik yang cukup dalam.

Seperti buku Look Me in the Eye yang gw bicarakan sebelumnya, buku ini juga berusaha menjelaskan bahwa orang autis pun sebenarnya bisa dan ingin berkomunikasi, hanya saja mereka melakukannya lewat cara-cara yang berbeda dengan kita.

Gaya bahasa dalam buku ini sederhana, seperti seorang anak kecil yang sedang menceritakan sesuatu. Mereka tidak mendeskripsikan sesuatu sampai ke detil-detilnya, tapi cerita itu terus mengalir dari satu adegan ke adegan lain. Kata-kata yang dipakai Lucy dalam deskripsinya pun menarik dan mudah dimengerti, terkadang lucu.

Quote: "Kau hanya bisa melihat dengan hatimu, sebab matamu tidak sanggup menangkap apa yang penting."

"Akan kumakan topiku kalau itu bukan komunikasi namanya."

17. Ciao Italia! : Catatan Petualangan Empat Musim, Gama Harjono - 27 Mar
Ringkasan:
Catatan perjalanan seseorang yang telah ‘jatuh cinta’ dengan Italia dan memutuskan untuk menghabiskan waktu setahun bersekolah di sana. Pengalaman-pengalamannya berjalan-jalan mengunjungi berbagai tempat indah di Italia dan juga Prancis, sampai acara berpesta dan bersenang-senang dengan orang-orang dari berbagai macam negara.

Biarpun gw orangnya emang jarang traveling, gw sebenernya tertarik untuk mengunjungi berbagai macam tempat di luar sana: dan salah satu tempat yang gw impikan adalah Eropa. Buku ini sudah berhasil memberikan gw gambaran lika-liku hidup di Italia lewat deskripsi tempat-tempat yang digambarkan dengan indah dan mendetil, kira-kira kita bisa merasakan "free trip to Italy with Gama Harjono" gitu deh.

Seru, menarik, inspiring, dan informatif. Kalau buku-buku catatan travel lain menceritakan perjalanan ke berbagai negara, buku ini hanya fokus pada Itali saja sehingga kita lebih bisa kebayang tentang cakepnya pemandangan di sana dan lezatnya makanan di sana… wuihh! Hehe.

Quote: "Maka, bagaimana menyembuhkan oramg Naples yang sedang sakit kepala? Panadol? Bukan! Aspirin? Bukan juga! Tawarkan saja dia secangkir kopi!"

18. Best of the Best, Luna Torashyngu - 27 Mar
Ringkasan:
Reina, sang bintang sekolah selalu merasa benci dengan anggota cheerleaders, terutama Tasha and the gank. Hingga kemunculan seorang murid baru yang misterius bernama Muri yang langsung menggantikan Tasha sebagai cewek terpopuler yang baru, serentetan kejadian aneh mulai terjadi di sekitar Reina.

Buku ini enak dibaca dan membuat kita penasaran, sehingga gw merasa betah untuk langsung menyelesaikannya kurang dari dua jam (di bawah sinar lampu remang-remang pula, soalnya lagi mati lampu!).

Plotnya menarik dan tidak bertele-tele, dengan cepat berpindah dari satu scene ke scene yang lain. Bahasa yang dipakai pun ringan, tanpa deskripsi ngejelimet tentang segala macamnya.

Biarpun gw sempet berharap akan dibahas lebih detil tentang pekerjaan Muri sebagai hacker, ternyata di buku ini urusan itu belum terlalu dibicarakan. Mungkin di buku selanjutnya?

Cuma ending-nya terasa kurang dan masih ‘nanggung’. Buku ini terasa seperti baru introduction dari cerita sesungguhnya, dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Ditunggu buku selanjutnya - Best of the Best: Beauty Bird!

Quote: "Tahun berapa Candi Borobudur dibangun?"

 
3 buku yang belum sempet gw review:
19. My Stupid Boss, Chaos@Work - 28 Mar
20. Travelers’ Tale; Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, Ninit Yunita - 31 Mar
21. Nobody’s Perfect, Stephanie Zen - 14 May

22. Yakuza Moon, Shoko Tendo - 15 May
Kalau kamu mengharapkan cerita yang menjelaskan kehidupan yakuza dan cerita dengan action-packed thriller yang memacu andrenalin, bukan itulah yang ada di buku ini.

Buku ini menceritakan kisah nyata tentang hidup Shoko Tendo, putri seorang yakuza yang mengalami berbagai macam perjuangan keras dalam hidupnya. Gw menganggap buku ini menarik bukan hanya semata-mata cover bergambar tato asli yang ada di punggung Shoko Tendo atau karena temanya yang membahas budaya Jepang, tapi ada sesuatu yang lebih dari buku ini.

Banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari buku ini. Pelajaran untuk tidak mudah menyerah, mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, menghargai orang tua, dan belajar untuk memilih keputusan yang tepat untuk masa depan.

Dimulai dari masa remaja Shoko Tendo yang penuh dengan kekerasan, seks bebas, obat-obatan terlarang, lalu ia berkali-kali jatuh cinta dengan pria yang salah yang malah sering menyiksanya, kakak yang terus-terusan meminta uang, dan ayah yang sakit-sakitan… wanita ini telah mengalami hidup yang sangat berat.

Namun itulah yang membuat kita dapat berdecak kagum melihat ketegaran dan semangat juang Shoko untuk membebaskan diri dari masalah-masalahnya.

 
Mungkin ada beberapa orang yang keberatan dengan bagian kekerasan dan vulgar dalam buku ini, tetapi gw sangat menghargai keberaniannya untuk menulis buku ini. Pengalaman-pengalaman dan aib yang telah ia lalui, semua ia tuliskan dengan bahasa yang begitu sederhana, lugas, dan jujur. Tentulah itu bukanlah hal yang mudah.
 
***
   
   Oke, itu aja review-review dari gw kali ini. Semoga bisa berguna! :D
March 21, 2009

There She is!

   Kemarin gw dikasih liat serial animasi flash sama temen gw. Judulnya "There She is!!", tentang seekor kelinci (Doki) yang jatuh cinta sama seekor kucing (Nabi) di sebuah dunia yang ditinggali oleh binatang-binatang (terutama kucing dan kelinci) yang hidup seperti manusia.

   Sebenernya animasinya dibuat sama orang Korea yang nggak terlalu bisa bahasa Inggris, tapi kita nggak perlu khawatir soalnya di animasinya nggak terlalu banyak kata-kata. Lagunya dalam bahasa Korea sih, tapi nggak masalah kok, tetap bisa dinikmati karena lagunya bagus-bagus.

***

Step One: There She is!!

   Diawali dengan pertemuan Doki dan Nabi di depan sebuah ‘vending machine‘, kisah cinta unik ini pun dimulai. Doki jatuh cinta pandangan pertama pada Nabi, dan langsung mengejar-ngejarnya dengan brutal. Nabi berusaha kabur, tapi ia tetap saja selalu ditemukan oleh Doki.

   Nabi berusaha menjelaskan bahwa kelinci seharusnya suka dengan sesama kelinci, bukan dengan kucing, dan mencoba menawarkan beberapa ‘kelinci ganteng’, tapi Doki tetap tidak mengerti. Akhirnya, Nabi pun menyerah.

Step Two : Cake Dance

   Doki berulang tahun dan mengadakan sebuah pesta di kafe. Teman-temannya pun datang berkumpul untuk merayakannya. Nabi belum datang karena ia pergi untuk membeli kue ulang tahun. Doki pun langsung jadi berbunga-bunga dan menantikan kedatangannya.

   Sementara itu, Nabi terlihat sedang berjuang keras untuk menjaga kue tersebut agar tetap utuh sampai tujuan. Ia sampai harus lari dari anjing dan badak, terjatuh, ditabrak, dan tertimpa reruntuhan barang. Parahnya, ia tidak sengaja menabrak gerombolan salah satu dari trio kelinci ‘gangster‘ yang disebut Jjinta Set.

   Sambil melarikan diri dari mereka, akhirnya ia tiba juga di tempat pesta ulang tahun Doki. Tapi karena diserbu oleh Jjinta Set kue tersebut pun jatuh dan rusak. Meskipun begitu, Doki tetap mengambilnya, memasang lilin di atasnya dan memakannya (kan belum lima menit…).

   Pesta berlanjut dengan meriah, sampai  mereka diusir dari kafe itu karena di sana dilarang ‘hubungan antara kelinci dan kucing’ (Poin ini akan jadi penting di episode keempat). Saat Nabi pulang, ia bertemu dengan seekor kelinci yang ingin mengantar kuenya ke suatu tempat dari toko kue yang sama, dan ia pun memutuskan untuk menggendong dan mengantarnya (mungkin agar ia tidak mengalami kejadian sepertinya).

Step Three: Doki & Nabi

   Hari itu adalah kencan pertama Doki dan Nabi. Pagi-pagi, Doki sudah muncul di depan rumah Nabi dengan begitu bersemangat dari dalam sebuah kotak kado (sambil menari-nari dengan pom-pom dan spanduk segala).

   Saat melewati sepasang kucing yang sedang pacaran dan bergandengan, Doki pun mencoba mengikutinya. Nabi secara refleks langsung menolak karena melihat sign ‘anti-hubungan-kucing-kelinci’ di sekitar, dan membuat Doki marah.

   Saat dikejar-kejar oleh Doki yang lagi ngamuk, Doki berhenti untuk membeli wortel. Segerombolan badak, anjing, dan binatang-binatang lain datang mengerumuninya. Saat ia bersahabat dengan seekor landak, Nabi mulai merasa tertarik dengannya. Saat mereka nonton di bioskop, ia mencoba memegang tangannya tapi gagal. Kencan tersebut berlanjut dengan canggung, dan akhirnya mereka berpisah.

   Setibanya di rumah, Nabi kembali melihat kotak kado dari Doki tadi pagi dan langsung bergegas kembali ke rumah Doki. Ia menawarkan "second date" yang langsung diterima dengan penuh sukacita. Episode ini berakhir dengan sebuah batu yang dilempar dan memecahkan jendela rumah Nabi.

Step Four: Paradise

   Bagian keempat ini adalah favorit gw, karena jauh lebih serius dan dark daripada episode lainnya yang lucu dan gemibra. Di episode ini hampir semua digambar dalam hitam-putih, dan animasinya tampak lebih baik dan mantap.

   Di episode ini, hubungan Nabi dan Doki semakin menarik protes dari mereka yang menentang hubungan antar ras kelinci dan kucing (biar singkat kita sebut aja intermarriage - hubungan antar pria dan wanita dari golongan/ras yang berbeda). Tapi di sisi lain, mereka juga memperoleh dukungan besar dari kelompok "pro-intermarriage".

   Nabi dan Doki diusir dari kafe tempat mereka berkencan, diomeli, bahkan Doki dan landak peliharaannya sampai terluka karena diserang kelompok ‘anti-intermarriage‘. Merasa bersalah dengan peristiwa tersebut, Nabi pun segera mengakhiri hubungan mereka.

   Saat merawat landaknya yang sudah sekarat, Doki mengeluarkan dua lembar tiket menuju ‘Paradise‘ yang ingin digunakannya bersama Nabi dengan sedih. Il-ho, salah satu dari Jjinta Set melihat hal ini dan langsung menemui Nabi untuk memukul dan memarahinya. Karena dihentikan oleh para "pro-intermarriage", ia membawa Nabi ke tempat "anti-intermarriage". Saat dikejar oleh mereka, ia tidak sengaja memukul temannya dan mengakibatkan perkelahian antara kedua kelompok.

   Di rumahnya, Doki berusaha menghubungi Nabi, tapi tidak berhasil karena saat itu Nabi sedang ditahan dengan Il-ho. Merasa semakin hancur dan kecewa, ia pun menghancurkan handphone-nya dan mengambil salah satu tiket menuju "Paradise" lalu pergi.

Part Five: Imagine

   Inilah akhir dari serial "There She is!!" ini, yang nungguin loadingnya paling lama.

   Doki yang akan segera pergi ke "Paradise" berhenti di depan sebuah pohon dan mengikatkan pita berwarna hijau ke pohon itu (yang ia pakaikan ke landaknya, warnanya sama dengan syal Nabi). Nabi yang baru saja dibebaskan dari tahanan duduk di samping vending machine tempat pertama kali ia bertemu dengan Doki - yang sekarang sudah dicorat-coret oleh kelompok "anti-intermarriage".

   Di sana, ia menemukan seekor anak ayam dan mengikutinya sampai ke pohon yang tadi dilewati Doki. Ternyata Doki telah mengikatkan banyak pita hijau ke pohon itu. Nabi pun kembali bersemangat dan segera pergi untuk menemui Doki. Ia pun dibantu oleh teman-temannya, Jjinta Set, sekelompok binatang (badak anjing dkk yang sudah sering muncul) untuk pergi ke airport.

   Di airport yang dipenuhi kelompok pro dan anti intermarriage, Nabi berhasil tiba tepat waktu sebelum Doki pergi. Mereka berpelukan dan segera meninggalkan airport yang sedang rusuh itu dengan gaya yang mirip dengan adegan impian Doki di episode pertama. Episode ini berakhir dengan mereka berdua sedang membersihkan tulisan-tulisan di vending machine dan minum bersama.

***

   Oh ya, abis nonton flashnya, gw nyobain gambar karakter Doki sama Nabi… gak terlalu mirip sih, hehe. Ini dia:

 

   Hehe. Gimana menurut kalian? (Sengaja gambarnya gak mau ditaro di atas, biar gak dibanding-bandingin sama gambar aslinya, wakakak!)

   Kalo mau tau lebih lanjut bisa liat websitenya, Sambakza.net. Coba nonton deh, gimana menurut kalian? :)  

February 17, 2009

1/5 of Goal - Review Dulu ah…

Filed under: Review

   Jreng-jreng… Seperti yang dulu gw pernah bilang dulu, gw bertarget membaca 50 buku dalam tahun 2009 ini. Saat ini gw telah menempuh 1/5 dari target tersebut, dan gw bakal post dulu review buku-buku ini sebelum bukunya udah pada basi, hehe. Tiap gw selesai baca 10 buku, gw bakal buat lagi post seperti ini.

   Karena bukunya banyak, maaf, jadi nulis ringkasan dan reviewnya versi ringkas banget! Biarpun gw bukan reviewer yang baik (hiks), tapi moga-moga ini bisa berguna buat sobat-sobat blogger yang suka baca buku juga… somehow. Have fun reading! :)

   Post review rame-rame kali ini dibintangi oleh buku-buku ini: The Maling of Kolor, P.S. I Love You, And Then There Were None, Penyunting Sinting, Ketika Daun Bercerita, The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe, Mr.Clarinet, Glam Girls, Piano di Kotak Kaca, dan The Hobbit.

***

1. THE MALING OF KOLOR, ROY SAPUTRA - 6 JAN

Ringkasan: Bang Yanto, Cuplis, dan Ujang adalah trio copet yang diberi misi supersulit dan mahasuci - untuk mencuri kolor. Kayaknya judulnya aja uda cukup jelas, hehe…

Ceritanya kocak dan menghibur! topik ceritanya juga unik dan fresh (coba cari buku laen yang temanya tentang pencurian kolor, ada gak?). Tema tentang persahabatan di antara si trio copet mengena banget.

Quote: "Sebelum sayah berpikir lebih jauh, mari kitah samakan persepsi tentang definisi kolor di sini. Apakah kolor yang Abang maksud adalah kolor yang digunakan untuk… hm… kolor?"

***

2. P.S. I LOVE YOU, CECELIA AHERN - 8 JAN

Ringkasan: Suami Holly telah meninggal, dan sebelum itu ia telah menulis beberapa surat untuk istrinya tersayang harus dibukanya secara berurutan dan ia harus menuruti isinya. Setiap surat yang diakhiri tulisan "P.S. I Love You" itu pun membimbing Holly untuk berhenti bersedih dan kembali menjalani hidupnya.

Aje gile, gw hampir nangis berkali-kali baca ni buku… dasar lebay. Habisnya waktu baca gw sering keinget tentang kakak-kakak gw sih. Ceritanya bagus, biarpun kadang-kadang gw suka ngerasa beberapa tokoh rada lebay dan plotnya rada muter-muter (er, emangnya gasing). Tapi banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari ni buku.

Dalam hidup, pastinya ada waktunya kita pasti ngerasa sedih, tapi kita gak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihan diri kita sendiri, because life still goes on out there! Kita nggak boleh terus-terusan egois minta diperhatiin terus, lagipula kan yang punya masalah nggak cuma kita doang. (Ceileh… hhe.)

Quote: "Remember our wonderful memories, but please don’t be afraid to make some more."

***

3. AND THEN THERE WERE NONE, AGATHA CHRISTIE - 9 JAN

Ringkasan: Sepuluh orang dari latar belakang berbeda-beda diundang untuk tinggal di sebuah pulau terpencil oleh seseorang yang tidak mereka kenal. Dalam hati, tiap orang itu menyimpan rahasia dan rasa bersalah mereka masing-masing. Di sana, satu persatu dari mereka pun dibunuh mengikuti pantun ‘Ten Little Niggers‘ yang ada di tiap kamar oleh seorang pembunuh misterius yang keji…

Buku lama sih, tapi biarin lah. Oh ya, gw beli versi terjemahan. Soalnya baca yang inggrisnya susah, puyeng gw :( huhuhu…

One word: Ngeri. Pertama gw baca pantunnya aja uda rasanya perasaan nggak enak banget. Waktu ngebaca, kita bisa membayangkan perasaan betapa nggak enaknya suasana nggak aman di pulau itu. Di mana kita nggak bisa percaya sama siapapun - karena bisa aja orang itu adalah si pembunuh itu! Kita juga nggak bisa melakukan apapun untuk melarikan diri dari pulau itu.

Biarpun kita udah bisa nebak orang selanjutnya bakal mati kayak gimana, tapi tetep aja nggak terduga. Alur cerita, trik pembunuhan, dan sosok asli pembunuhnya menurut gw cukup sulit ditebak sampai akhirnya kecuali punya ‘otak Conan’, hehe.

Tokoh-tokohnya kerasa ‘manusia‘ banget. Nggak ada tokoh yang bener-bener ‘baik’ di sini. Mereka semua pertama tampaknya orang baik-baik yang biasa aja, padahal sbenernya di balik itu mereka berusaha menutup-nutupi dosa yang telah mereka lakukan. Dengan mudahnya mereka saling menuduh dan memojokkan bahwa orang lainlah yang bersalah. Ah, semut di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak… (ceileh!)

Quote: "Death is for other people."

***

4. PENYUNTING SINTING, GARI RAKAI SAMBU - 9 JAN

Ringkasan: Genrenya juga PeLit, jadi ni buku pasti nyeritain tentang kehidupan si pengarang sehari-hari. Mulai dari tes jadi editor, kehidupan jadi editor, tragedi gak dapet-dapet cewek, nyobain fitness, digoda banci, dan cerita-cerita lainnya.

Pertama, desain covernya lucu ya? Menarik gitu. Hehe… Ahh, bukannya review bukunya malah covernya, dudul.

Ceritanya secara keseluruhan cukup menghibur. Biarpun kadang humornya kadang kerasa rada garing dan penggunaan "Nggak deh…" rada kebanyakan. Menurut gw sih yang paling lucu yang waktu fitness sama urusan kebencian dengan John Lennon yang ngaco banget - sampe sekarang gw masih mikir, kenapa harus John Lennon?! Hehe…

Kita juga jadi bisa lebih tahu tentang sosok pahlawan tanpa tanda jasa (emangnya guru tah?) yang disebut ‘editor’ - yang bekerja keras bertempur melawan deadline di balik buku-buku yang kita beli dan tinggal enak-enak baca.

Quote: "Satu saran buat kamu yang mau jadi editor: kalo dites nulis, jangan nulis John Lennon sebagai tokoh yang kamu benci. Just don’t do it!"

***

5. KETIKA DAUN BERCERITA, MARADILLA SYACHRIDAR - 13 JAN

Ringkasan: Buku ini menceritakan tentang Baba dan Kimi, dua batang pohon yang berdiri di samping sebuah lapangan. Ceritanya ditulis dari sudut pandang Baba, yang menjadi ’saksi bisu’ kehidupan orang-orang di sekitarnya  seperti Mira, Mondri, Neng Omah, Innaya, dan lain-lainnya. Ia juga sering memperhatikan aspek-aspek dalam kehidupan manusia - yang membuatnya ingin sekali menjadi manusia.

Gw suka sama desain cover buku ini. Cuma gw rada nggak suka covernya dibuat dari 2 halaman (yg ‘border’ dan yang gambar daun). Gw rada serem aja bagian border kanannya yang lebih kecil robek, ntar kan jadi jelek bukunya. Yah, yang ini cuma pendapat ngawur sendiri sih.

Topik cerita ini cukup unik, karena tokoh yang dipilih adalah sebuah pohon, bukan manusia seperti layaknya novel-novel lain. Banyak ‘cerita’ yang berlangsung bersamaan - seperti tentang Mira dan Innaya, urusan Neng Omah, anak-anak yang main bola - Hal ini membuat kita jadi penasaran dan ingin terus membaca (biarpun kadang gw suka dibuat bingung).

Baba yang lebih tua dan ‘filosofis’, dan Kimi yang lebih berapi-api dan ‘blak-blakan’ membuat obrolan mereka jadi menarik dan menyentuh. Cukup banyak kejutan di endingnya, seperti tentang orang-orang yang diperhatikan Baba selama ini ternyata sama, dan tentang si ‘anak indigo’ (yang menurut gw sih rada aneh). But overall, it’s a nice book!

(Oh ya, rada gak penting sih. Tapi kenapa judulnya  "Ketika Daun Bercerita", bukan "Ketika Pohon  Bercerita"?)

Quote: "Persetan dengan Aristoteles yang berkata bahwa tanaman mempunyai jiwa namun tidak memiliki perasaan."

***

6. THE CHRONICLES OF NARNIA: THE LION, THE WITCH AND THE WARDROBE, C.S. LEWIS - 18 JAN

Ringkasan: Empat bersaudara Pevensie; Lucy, Edmund, Susan, dan Peter tinggal di sebuah rumah besar milik pamannya. Suatu hari saat mereka bermain petak umpet, Lucy menemukan sebuah dunia ajaib bernama Narnia di balik sebuah lemari pakaian…

Gw sebenernya nggak terlalu suka dengan genre fantasi, dan buku ini gw baca hanya karena tugas sekolah. Yah, ceritanya cukup menarik dan mudah dibaca (dan agak mudah ditebak juga). Menurut gw dalam buku ini nggak ada karakter yang bener-bener ‘menonjol’ atau menarik perhatian gw.

Buku ini memang ditujukan buat anak-anak karena ceritanya yang cukup ringan dan bahasanya yang nggak terlalu sulit. Tapi sebenarnya cerita dalam seri ini dapat dikaitkan dengan nilai-nilai agama Kristen yang cukup menarik untuk diperhatikan orang dewasa.

Oh ya, buku dan filmnya hampir nggak terlalu beda ceritanya. Berhubung gw udah nonton filmnya, waktu baca bukunya udah nggak terlalu seru atau penasaran lagi. "Abis ini pasti gini lanjutannya! Tuh kan, bener…" Yah, tetep ada beberapa perbedaan sih.

Quote: "’Safe?’ said Mr. Beaver. ‘Who said anything about safe? ‘Course he isn’t safe. But he’s good. He’s the King, I tell you.’"

***

7. MR. CLARINET (VOODOO), NICK STONE - 22 JAN

Ringkasan: Seorang detektif swasta yang merupakan mantan polisi (dan mantan napi), Max Mingus, mendapatkan misi untuk menemukan putra seorang kaya bernama Charlie Carver yang menghilang di Haiti. Di sana ternyata sudah banyak anak-anak yang menghilang secara misterius, dan terdengar banyak rumor mengenai sihir hitam dan sosok misterius bernama "Mr.Clarinet".

Sebenernya awalnya gw nggak punya rencana untuk baca buku ini. Gw minta minjem buku "Glam Girls" dari temen gw, eh dia lupa dan malah ngasih minjem buku ini.

Waktu baca buku ini, gw kadang ngerasa ngeri dan perasaan gw jadi gak enak. Banyak kekerasan dan tema-tema yang cukup dewasa dideskripsikan dengan cukup blak-blakan (yang gampang jijik atau takut sebaiknya jgn baca buku ini) di buku ini. Berhubung di covernya gak ada tulisan ratingnya, ya mana gw tau bakal begini. Deskripsi tentang keadaan Haiti, terutama Cite Soleil yang menjijikkan banget, bikin gw nggak berani bayangin seperti apa tempatnya.

Kadang-kadang deskripsi dan penjelasan tentang sejarah negara Haiti yang panjang lebar bikin gw bosan. Tebal bukunya (sekitar 700 hlm versi terjemahan, 500-an versi inggris) memang lumayan menantang, tapi alur ceritanya yang menarik dan sulit ditebak dapat membuat kita betah membaca.

Quote: "’Bentuk pembalasan dendam yang terbaik untuk musuh-musuhmu bukanlah kematian atau pemenjaraan, tetapi membiarkan mereka melihatmu hidup berhasil dan bersenang-senang."

***

8. GLAM GIRLS, NINA ARDIANTI - 26 JAN

Ringkasan: Sejak TK Adrianna bersekolah di Voltaire International School, sebuah sekolah yang menerima murid-murid yang kalo bukan KAYA banget ya yang PINTER banget. Kini di SMA, ia harus berurusan dengan tiga orang cewek ‘populer’ yang selalu menarik perhatian semua orang di sekitar dengan gaya mereka - Rashi, May, dan Marion. Pertama-tama Ad merasa terganggu dan kesal dengan kelompok tersebut, hingga kejadian demi kejadian membuatnya jadi tergabung dengan ‘the coolest clique’ tersebut dan membuatnya mulai berubah pikiran.

Buku ini cukup menarik, dan gw lumayan bisa membayangkan ‘the-whole-popular-girls-clique-thing‘ terjadi dalam hidup persekolahan gw. Tokoh-tokohnya terasa hidup dan real. Ceritanya ringan, menghibur, dan ‘ABG banget’.

Banyak banget nama merk dan kalimat inggris yang diselipkan dalam narasi dan dialog buku ini. Urusan brand dan fashion, gw bisa dikatakan buta deh. Kata orang-orang, buku ini mirip dengan Gossip Girls. Berhubung gw tidak pernah baca Gossip Girls (pernah sih, tapi cuma beberapa halaman aja :P ) gw tidak bisa berkomentar tentang hal itu.

Gw udah baca sekilas cuplikan Reputation, sekuel dari buku ini. Pertama-tama yang gw sadari, kenapa pengarangnya beda? Gaya penulisannya juga pasti terasa berbeda tentunya dong. Apakah penulis ini dapat meneruskan dengan baik cerita yang telah diawali oleh orang lain? Let’s just wait and see

Quote: "Cuma cewek cerdas dan mandiri yang bikin aku mengerang iri. Yang menghargai jerih payah Kartini menaikkan harkat dan martabat cewek. Yang percaya daya tarik seorang cewek nggak terbatas di permukaan kulit saja."

***

9. PIANO DI KOTAK KACA, AGNES JESSICA - 1 FEB

Ringkasan: Sejak ayahnya dipenjara karena tuduhan membunuh ibunya, Sheila yang masih SMA pun tinggal bersama keluarga saudara angkat ayahnya. Namun di rumah itu, ia tidak diperlakukan dengan baik oleh orang-orang di sana. Sheila tidak tahan lagi dan akhirnya setelah sebuah ‘kecelakaan’ terjadi, ia pun dipindahkan ke sekolah asrama. Sheila pun bertemu dengan seorang pria bernama Bram yang mau menerimanya.

Awal ceritanya memang terkesan klise dan ’sinetron’ sekali - tentang anak yang disiksa oleh tokoh ‘ibu tiri’ dan ’saudara tiri’ sementara sang ‘ayah’ tidak tahu apa-apa dan menganggap mereka semua baik-baik saja.

Setelah setting cerita berpindah ke sekolah asrama Sheila dan kemunculan Bram, ceritanya mulai lebih memikat dan sulit ditebak. Bahasa bukunya pun mudah dibaca dan dimengerti, dan tidak terlalu banyak deskripsi panjang lebar yang tidak perlu.

Quote: "Biarlah miniatur piano itu menjadi kenangan. Kenangan pahit dan manis yang pernah dialaminya. Karena ia tahu, kedua hal itu sama berharganya."

***

10. THE HOBBIT, J.R.R. TOLKIEN - 11 FEB

Ringkasan: Bilbo Baggins adalah seorang Hobbit (manusia kerdil/pendek) yang terbiasa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan hidup nyaman dan tentram di rumahnya. Semua hal itu berubah saat suatu hari seorang penyihir bernama Gandalf mengajaknya untuk ikut bertualang dengan tiga belas kurcaci untuk mengambil harta karun seekor naga bernama Smaug.

Buku pinjaman dari perpustakaan ini akhirnya gw berhasil selesaikan juga dengan penuh perjuangan. Jujur saja, gw merasa chapter-chapter awalnya agak membosankan. Apalagi  seperti yang telah gw bilang di review-nya Narnia, gw ini orang yang kurang suka dengan tipe cerita fantasi dengan mahkluk dan dunia ciptaan penuh ‘imajinasi tingkat tinggi‘. Tapi saat gw memaksa untuk terus membaca, (kira-kira mulai dari chapter "Riddles in The Dark"), The Hobbit mulai terasa menarik.

Buku ini bisa dibilang merupakan prolog dari Lord of The Rings. Di tengah perjalanan Bilbo, diceritakan ia mencuri sebuah cincin ajaib dari Gollum. Cincin inilah yang menjadi awal cerita di Lord of The Rings.

(PS: Katanya sih begitu, tapi gw sendiri belum pernah nonton atau baca LoTR, jadi nggak tau deh ya…)

Dunia, lokasi-lokasi, mahkluk-mahkluk, karakter, bahkan bahasa elvish yang dideskripsikan Tolkien dalam buku ini tampak direncanakan dengan matang dan detil. Tata bahasa dalam buku ini buat gw terasa seperti seseorang sedang menceritakan sebuah cerita petualangan pada kita, yang membuat kita lebih tertarik untuk ‘mendengar’ lanjutannya.

Quote: "What have I got in my pocket?"

***

   Nah, itulah 10 buku yang telah gw baca di awal tahun 2009 ini. Semoga review gw bisa bermanfaat. Kalau kalian-kalian ada yang udah baca buku yang sama, silakan sharing komentar kalian tentang buku ini di comment yah :D

   Stay tuned for the next 10 reviews!


<< Older Posts