October 25, 2009
Hannah Skye will no longer be here.
I stood in front of my room, holding a packed suitcase with one hand and a smaller handbag on the other hand. The room, used to be a total mess with unorganized stacks of papers here and there, now only had a bed, table, and chair. The most valuable things in my room are in my bags now, and the rest of the furniture I’ve thrown away. It was quite hard to get rid of things without their notice, especially ones like statues or wardrobes. At first I planned on selling them all or giving them to the poor – but it’s just too troublesome. Finally, with the help of an axe and fire, those items are history.
It was midnight, and the house was real quiet and dark. I paid attention carefully for every single sound – if I hear any footsteps or creaking sound of a door being opened, I’ll immediately dart back into my room and lock the door. I won’t risk being busted by them, or else I might lose my own freedom. I’ve planned this escape thoroughly, and I won’t let it to be delayed anymore.
The house was still silent, as if respecting my room and me to spend our last moments together. I touched the walls gently, remembering the times when mother and I painted them with colorful patterns and pictures. We both got scolded by grandpa and he ordered them to be painted back to white, but I had lots of fun.
A rush of memories flooded my brain. Picture of mother and I sleeping on the bed as her soft voice reads a story for me, picture of me who fell asleep in her arms, picture of Bruce and me watching the stars together… When the flash of pictures in my mind ended, tears began to dwell on my eyes and my heart began to ache. Can I stand leaving them? Can I survive living on my own?
No. I should not doubt anymore.
I turned to the room across mine, and opened the door. Tiptoeing in the darkness, I reached for the lady sleeping on the bed. She was asleep, of course, since she must be so tired after work. I stroked her face lightly, and kissed her cheek.
“I love you, mom.”
I stood up and rushed outside. I felt like I heard a sobbing sound, but I don’t want to turn back to check. I’ve already made up my mind, and I mustn’t hold back now. Stepping down the stairs, my heart raced, and finally I opened the main door.
The taxi I rented was waiting in a park not far from here. I must not keep that poor guy waiting. Before I sneaked out from the secret path I’ve prepared since months ago - a hole in the wall covered with bushes and flowers, I took the house’s key out of my pocket and threw it away into the pond.
It’s time for me to leave this place, and there’s no returning back.
“Hello,” I smiled to the man who was smoking and leaning to the lamppost next to his taxi. He seemed bored. Maybe I made him waiting for too long.
“Sorry to keep you waiting. I guess we can go now,” I said.
“No problem,” the driver laughed, threw away his cigarette and opened the car’s door for me – ah, what a gentleman! I put my luggage next to me and made myself comfortable, since it’ll be a long journey. And maybe, I won’t be so lucky to have another ride in a taxi. Just maybe.
“Where are you going, Miss-?” he turned and wondered for a name, since I remained anonymous when requesting for the taxi on the phone. Not to mention the taxi company is far from the house and not really famous. Of course, he must be suspicious of what I’m up to. I decided not to be so mysterious, or else he’ll find me too memorable and they’ll easily find out my whereabouts.
“My name is… Hayley. Hayley Starr,” I raised my head and looked him in the eye, “And just go as far as you can from the city, I’ll tell you later when to stop.”
He looked back at me, waiting for me to say something more. He was doubtful, but I didn’t turn my eyes away to tell him I’m sure of what I’m doing. “All right,” he finally said and started the car, “But don’t make me go travel around the whole country and ended up saying you forget your wallet.”
I smiled sweetly again and showed him my wallet. He smiled back, more relaxed now that he knew I’m a paying customer. I rested my head back and closed my eyes. It seemed I had a nice companion for the beginning of my journey.
As the car moved away, I couldn’t help but to turn back and take a last view of the grand house. I caught a glimpse of a woman standing behind the window at the top floor, but the trees covered the way before I could get a better look. The house grew smaller and finally faded away behind the trees. I finally broke down and cried. I covered my face with my hands and my long hair so no one else can see.
Mr.Jefferson, the name of the driver as I saw on his tag, must have thought that I’m sleeping. He began to smoke again and switched the radio programme to the one talking about stuffs I don’t want to hear about. From the corner of my eye I also caught a glimpse of his hand holding a beer bottle. How disgusting.
March 5, 2009
(Terinspirasi dari Reader’s Digest bulan ini)
Di tengah kesibukan dan kepadatan jadwal kita sehari-hari, kita kadang menjadi kurang peduli dengan orang lain di sekitar kita. Saat melihat orang lain kesusahan, kita sering pasif dan hanya berpikir "biarkan saja, nanti juga orang lain yang akan membantunya". Padahal hal-hal baik yang sederhana yang kita lakukan dapat membantu membahagiakan orang lain - dan juga diri kita sendiri.
The world is black, and hearts are cold.
Terkadang kita mempunyai niat untuk berbuat baik itu, tapi hal-hal seperti "gengsi" mencegah kita. Takut disebut "sok baik", "cari muka" atau "belagu", atau takut dianggap orang aneh karena membantu orang tidak dikenal.
Hal-hal baik yang dimaksud tidak selalu harus hal-hal besar seperti "menjual rumah dan menyumbangkannya pada yang miskin" atau "puasa setahun dan memberikan makanannya bagi oragn-orang yang membutuhkan", tapi bisa juga hal-hal yang begitu sederhana dan mudah dilakukan seperti menyapa orang lain, tersenyum, memberi hadiah, atau berterima kasih.
***
- Say Hi.
It’s impossible to say hello without smiling.
Waktu gw jalan-jalan pagi di sekitar kompleks kakak gw di luar negeri, beberapa orang yang gw temui tersenyum dan menyapa gw. Gw nggak pernah ketemu atau liat mereka sebelumnya, dan gw jadi merasa heran.
Kami berpapasan, ia tersenyum dan berkata "Hello" atau "Good Morning!", dan gw membalasnya. Percakapan yang begitu singkat dalam hitungan detik, tapi entah kenapa hal itu membuat gw merasa lebih senang pagi itu.
Kata kakak gw, hal itu memang sudah biasa di sana. Coba kalau di Jakarta, kalau kita nyapa orang gak dikenal, pasti dia cuma menatap kita dengan aneh sambil menyeringit. Kalau bukan mikir "siapa sih dia?" paling "ngapain dia nyapa gw? jangan-jangan gw mau dihipnotis…".
Kebanyakan orang terbiasa menghubungi orang lain kalau ada perlu saja. Kadang saat kita menyapa orang lain, lanjutan dari jawaban orang itu adalah "Ada apa?", seolah-olah kita tidak boleh memanggilnya kalau tidak ada perlu. Ada lagi adik kelas (tapi dia temennya temen gw, halah) yang gw sapa malah bisik-bisik sama temennya "Ih, padahal gak kenal…".
- Smile.
A smile is a curved line that sets things straight.
Tentu saja, tersenyumlah di tempat dan waktu yang tepat. Jangan tersenyum saat ada orang jatuh berguling-guling dari tangga lalu tertimpa gajah. Atau saat orang sedang berduka seribu satu malam karena diputusin pacarnya. Dan tersenyumlah seperlunya, sebelum dianggap orang gila oleh orang-orang sekitar.
Dengan tersenyum, seseorang tampak lebih bersahabat (tapi kadang senyum juga bisa membuat seseorang tampak kejam, mesum, atau mengerikan sih) dan orang-orang biasanya akan merespon dengan lebih baik padanya.
Kita dapat memulai dengan tersenyum pada teman-teman, bos, guru, atau keluarga kita. Atau misalnya saat bicara dengan pelayan di restoran, saat berbicara dengan kasir di toko, atau saat berpapasan dengan teman yang tidak begitu akrab.
Gw sering mencoba mempraktekkan hal ini, dan hasilnya beragam. Kadang orang itu membalas tersenyum atau merespon dengan bicara lebih ramah, kadang dicuekin abis-abisan (yang ini bikin bete kuadrat!!), dan lagi-lagi: kadang diliatin dengan tatapan "ngapain ni orang senyum ke gw?".
- Give gifts.
Love is a gift. You can’t buy it, you can’t find it, someone has to give it to you.
Kita tidak selalu membutuhkan uang banyak untuk membelikan hadiah yang disenangi orang lain. Kadang hadiah yang sederhana justru dapat bermakna besar bagi seseorang. Umumnya seseorang akan lebih berterima kasih pada kita kalau kita memberikan sesuatu yang ia inginkan atau yang ia sukai.
Waktu ulang tahun gw, gw menerima banyak hadiah yang bertema Snoopy. Boneka Snoopy, sandal Snoopy, penggaris Snoopy, buku gambar Snoopy… Hehe. Gw jadi merasa senang saat mengetahui bahwa mereka ingat apa yang gw sukai.
Tapi sayang sekali, gw bukanlah pemilih kado yang baik. Setiap ada yang ulang tahun, gw akan kebingungan kesana-kemari untuk mencari hadiah yang tepat. Malah kadang gw harus langsung bertanya ke orangnya, "Mau hadiah apa ya?" karena nggak tahu hal apa yang mereka sukai. T^T
- Remember people’s birthdays.
Our birthdays are feathers in the broad wing of time.
Saat kita berulang tahun, kita akan merasa senang kalau ada yang mengingatnya dan mengucapkan selamat pada kita. Apalagi kalau mereka menyiapkan kejutan, kita menjadi merasa ’spesial’. Mengucapkan selamat ulang tahun pada orang yang tidak begitu akrab dengan kita kadang dapat membuat hubungan kita dengan orang itu jadi lebih baik.
Untuk orang yang pikun seperti gw, bisa mengandalkan kalender hape atau website seperti Facebook atau Friendster. Masukkan ulang tahun teman-teman dan keluarga di kalender hape, dan perhatikan bagian "Birthdays" di sidebar Facebook.
Usahakan untuk tidak mengucapkan "Happy belated birthday", kalau perlu cobalah menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat
Ide gila ini sering gw lakukan, bela-belain nggak tidur untuk nungguin jam 12 biar langsung nelpon dan ngucapin "Happy birthday!!!". Kadang-kadang gagal karena gw ketiduran sih.
- Simple words of praise.
It is great happiness to be praised by them who are most praiseworthy.
Setiap orang senang dipuji, meskipun kadang mereka tidak menunjukkannya. Terutama para kaum hawa, mereka senang kalau ada orang memuji penampilan mereka (Gw juga tidak terkecuali dong ah, nyahaha) seperti rambut atau pakaian. Misalnya "Wah, bajunya lucu banget!" atau "Baru potong rambut ya?". Tapi mujinya jangan lebay, ntar keliatan bo’ong.
- Listen.
We have two ears and one mouth so that we can listen twice as much as we speak.
Kalau ada orang sedang bercerita pada kita, dengarkanlah dengan baik. Jangan memotong ucapan mereka dan memasukkan ceritamu sendiri, tunggu sampai cerita mereka selesai dulu. Terkadang orang yang sedang emosi lebih butuh tempat untuk bicara daripada nasihat untuk menenangkan mereka.
***
Itu beberapa contohnya, dan tentu aja masih banyak lagi. Ada yang punya ide lain? Silahkan di-share
January 25, 2009
Masih ingat target gw untuk membaca 50 buku dalam tahun ini? Well, akhir-akhir ini buku-buku itu berdatangan dan menumpuk di meja gw, menunggu gw membaca mereka satu persatu. Justru di saat gw lagi sibuk mereka berdatangan!
Buku pertama, Piano di Kotak Kaca karangan Agnes Jessica. Buku ini direkomendasikan oleh temen baik gw, Magi-chan. Waktu masih kecil, dengan tololnya gw mengira bahwa judul buku ini adalah "Serial Agnes Jessica", bukan "Piano di Kotak Kaca", karena tulisan nama pengarangnya lebih gede dan mencolok. Hehe, cape deh…
Gw baru baca satu bab. Beberapa halaman pertamanya sih masih menarik, tapi baca lanjutannya gw melengos. Dua kata yang terlintas dalam otak gw: Sinetron banget… Tragedi anak pungut yang disiksa dan menderita karena diperlakukan seperti pembantu di keluarga barunya. Berapa sinetron ya yang udah ngebahas topik ini?
Tapi itu baru kesan pertama gw. Semoga saja lanjutannya akan jadi lebih menarik.
Buku kedua adalah The Hobbit karangan J.R.R. Tolkien, pengarangnya The Lord of The Rings. Kalau ini nggak ditugaskan di sekolah, gw nggak bakal pernah menyentuh buku ini. Gw nggak suka genre fantasi dengan urusan naga, peri, pangeran, kerajaan, dan apalah. No offense, hanya masalah selera pribadi.
Gw udah memaksakan diri baca 70 halaman, tapi sejauh ini gw kurang begitu tertarik. Gw sendiri belum pernah nonton The Lord of The Rings. Karena ini tugas sekolah, ya gw harus menyelesaikan buku ini dalam jangka waktu beberapa minggu. Apalagi gw udah ditantang sama Bawang untuk baca abis ini buku. Jadi ya, mau atau tidak, gw akan baca habis.
Guru gw sangat merekomendasikan buku ini, jadi kita lihat saja nanti apakah gw akan terpikat dengan ceritanya atau tidak. Gw masih punya ekspektasi besar dengan buku ini.
Lalu ada buku Glam Girls karangan Nina Ardianti. Berbeda dengan dua buku yang tadi, gw cukup bersemangat untuk baca yang ini. Karena ada beberapa kemiripan antara gw dengan sosok Adrianna di buku ini. Persoalan di buku ini kerasa lebih "real".
Coba, mana yang bakal lebih sering lu temuin setiap hari?
a) Sosok anak pungut yang menderita disiksa ibu dan saudara angkatnya
b) Goblin yang pergi bertualang mencari naga dengan sekelompok kurcaci
c) Kelompok cewek ‘populer’ yang gayanya stylish, mewah, dan mencolok
Nggak tahu buat orang lain ya, tapi pilihan C adalah jawaban gw. Mirip dengan Adrianna di bab-bab awal (karena sepertinya di lanjutannya dia akan mulai berubah pikiran), gw nggak suka dengan tipe geng ‘populer’ yang genit dan banyak gaya. Sebelum itu gw bilang dulu, no offense kalo ada yang ngerasa.
Tipe geng di mana ada satu (atau lebih) ‘queen bee’, di mana apa aja yang dia omongin akan diikuti oleh bawahan-bawahannya. Cowok-cowok akan ngikut mereka dengan senang hati karena mereka cantik dan ‘enak dilihat’. Peduli amat dengan pelajaran, asal rambut rapi dan tampak oke. Kata-kata inggris, terutama kata-kata yang depannya F dan B (contoh: Fruits dan Bananas… Nggak lah, tau kan maksut gw?) mungkin adalah yang terfavorit.
Lalu, drama is their favorite too. Backstabbers, pacar selingkuh, ada satu orang yang disebelin sama semua kelompok dan terbuang, berantem sana-sini, putus di sana, jadian di sini… Gw dan temen-temen gw serasa nonton sinetron setiap hari. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah si A akan kembali dengan si B? Ataukah B akan jadian dengan si C yang sudah mendekatinya? Saksikan di episode selanjutnya! BERSAMBUNG.
Ahahaha, oh, please…
Baca tiga buku dalam waktu berdekatan tentu saja bikin pusing. Apalagi tiga buku dengan genre yang berbeda seperti ini. Bisa-bisa ntar gw berimajinasi kalau Adrianna jadian sama Bilbo Baggins lalu mereka menyimpan sebuah piano di kotak kaca bersama-sama. Jangan sampai begitu, deh!
Lagi-lagi gw mengingatkan diri tentang prioritas. Meskipun gw ingin sekali menyelesaikan Glam Girls karena pensaran nasib si cewek-cewek ‘oh-so-popular-ew’ itu, ingin menyelesaikan Piano di Kotak Kaca agar gw bisa cepet-cepet balikin, gw harus pentingin tugas sekolah dulu.
So, The Hobbit it is. Wish me luck with this book…
January 8, 2009
Tadi sore gw pergi makan-makan sama bokap-nyokap gw. Abis kita order makanan, tiba-tiba ada anak kecil lewat. Jalannya masih sempoyongan gitu, lucu banget deh! Hehe, ntar anaknya kakak gw jadinya kayak gitu juga ya kalo udah gedean.
Pas ngelewatin meja gw, dia ngeliatin kita mulu, anak itu pun tersenyum terus ketawa. Biar dianggep anak yang sopan dan berbudi pekerti, gw pun membalas tersenyum - biarpun gw nggak tau dia ketawain apaan. Terus dia pun ber-pantomin-ria dengan menunjuk sana-sini dan melakukan beberapa gerakan, tapi gw nggak ngerti maksudnya jadi gw ngeliatin doang.
Bokap gw tiba-tiba ngerti. "Oh, tu anak mau minta balon."
Gw nengok ke salah satu arah yang ditunjuk tu anak tadi, oh iya, ada balon. Akhirnya bokap gw pun mintain satu balon buat tu anak, dan anak itu bermain balon itu dengan gembira tanpa ngucapin terima kasih - gw juga gak yakin dia udah bisa ngomong sih. Sebagai perwakilan, sang ibu pun berterima kasih pada bokap gw.
***
Kayaknya jadi anak kecil enak amat ye… (Lu kira lu dah gede, Chel? You’re still damn 14 years old!) Or maybe, I’m damn 14 years old already.
Rasanya cepet banget gw tau-tau udah mau SMA. Gw masih inget dulu gw masih TK, gw suka diusilin sama temen-temen gw (bahasa kerennya: Bully!). Gara-gara itu, akhirnya gw pindah sekolah. Malu-maluin banget sih, emang. Untung di sekolah baru gw, gw cukup diterima oleh temen-temen baru gw. Malahan gw inget dulu ada yang ngasih gw Oreo! Halah, penting nggak sih.
Tapi seandainya dulu gw nggak dibully mereka, gw pasti masih di sekolah itu sekarang. Dan pastinya kalo gitu, gw nggak bakal kenal temen-temen gw yang sekarang. Gw bakal punya temen-temen yang berbeda yang gw gak bisa bayangin kayak apa - ato mungkin malah di sono gw malah kagak punya temen. Mungkin.
Jadi, thanks to my bulliers that I’m here!
(Kok kayaknya ada yang salah ya dengan kalimat itu… wakaka)
Selama SD, banyak pengalaman suka-duka yang gw udah lewatin. Perang timpuk-timpukan roti, nyelinep diem-diem ke lantai atas yang terlarang dan langsung ngibrit ke bawah gara-gara ‘liat sesuatu’, heboh gara-gara ada yang bagiin permen di kantin dan ngira itu narkoba, mati listrik karena gardu listriknya meledak, pentas drama gokil, ngerjain temen waktu ultah, ngedukung temen gw ikut kontes nyanyi pake spanduk… banyak dah.
Gw juga udah ketemu berbagai macam orang yang aneh-aneh tingkahnya. Ada yang suka kentut lah, ada yang botak lah, ada yang homo lah, ada yang rese lah, ada yang tukang boong lah, ada yang gendut lah… Seandainya gw gak pindah ke sekolah ini, gw pastinya gak bakal ngalamin dan ketemu orang-orang itu. Gw bakal menjadi orang yang berbeda sekarang.
Kalau gw tetep di sekolah lama gw, bisa aja gw jadinya cewek nerd yang pendiem, nilainya bagus terus, dan kuper. Ato bisa aja gw jadinya cewek tomboy yang tinggi dan jago olahraga tapi pelajarannya bego kuadrat. Ato bisa aja gw jadinya cewek modis bin feminim yang pacarnya cakep kayak Matthew Bellamy… (MIMPI LO!! Wkwkwk…)
Lalu waktu milih SMP, gw stuck dengan dua pilihan. Lagi-lagi, seandainya gw milih sekolah yang satu lagi, nasib gw pasti berbeda sekarang. Gw gak bakal tau tuh mahkluk-mahkluk bernama Maggie, Nikol, Gaby Kum Kum, Jelita, Fiona, Cilla, dan seabrek lagi laennya. Dan gw juga gak bakal tau guru-guru nyentrik yang ada di sekolah gw sekarang. Gw juga pasti gak bakal pernah nyobain yang namanya camping, ngelompat dari air terjun, main biola, ngikut orkestra, dan pengalaman baru lainnya.
Oke, mungkin sebagai gantinya gw juga bakal mendapat seabrek temen baru dan pengalaman baru kalau gw milih sekolah satu lagi. Semua juga pasti ada untung-ruginya juga. Tapi akhirnya gw milih sekolah ini dengan ajaibnya, dan pastilah ada alasan kenapa takdir membawa gw kemari (halah!). Gw belum tau, tapi gw bersyukur dengan apa yang gw terima sekarang.
Setidaknya gw masih hidup, gw masih bisa sekolah, gw masih punya temen-temen yang care sama gw, dan setidaknya gw bisa membaca dan menulis. Soalnya, kan banyak orang di luar sana yang nggak seberuntung kita. Ya nggak?
***
Oh ya, tahun ini gw mau nyoret rencana gw buat nonton 50 film menjadi… MEMBACA 50 BUKU DALAM SATU TAHUN! Tahun lalu gw hanya berhasil sampai 40 buku, tau-tau udah tahun baru. Jadi tahun ini gw harus lebih giat membaca. Komik, buku pelajaran sekolah, brosur, buklet iklan, dan menu restoran nggak termasuk dalam list itu.
Sejauh ini gw udah membaca dua buku, yaitu The Maling of Kolor by Roy Saputra dan P.S. I Love You by Cecelia Ahern. Nih dia cover-covernya:
Si cowok: Say, kok kamu senyum-senyum sih ngeliatin maling kolor itu? Demen ya?
Si cewek: Ah, nggak… abisnya kolor yang dicuri itu kolor kamu tau!
Target selanjutnya adalah Penyunting Sinting by Gari Rakai Sambu dan And Then There Were None by Agatha Christie. Rencananya nih, gw bakal post review buat semua buku yang gw baca di tahun 2009 waktu akhir tahun nanti. Tapi biasanya sih gw udah geregetan mau ngepost, duluan jadi mungkin dipostnya per 3-4 bulan aja kali ya, hehe…
Ada yang mau berjuang pasang target itu kayak gw juga?
January 1, 2009
HAPPY NEW YEAR 2009! SMOGA TAON DEPAN JADI MAKIN BAEEK, MAKIN SABAARR, MAKIN SAYANG SESAMA DAN CINTA DAMAI, MAKIN CINTA BUMI PERTIWII (kan kasian udah global warming), MAKIN PENGERTIAN SAMA ORANG2 SKITAR, MAKIN LENGkET SAMA YANG DICAYANK (eheemm…maksute kluarga n berfren juga lho!), MAKIN CINTA TUHAN DAN TIDAK PUTUZ AZA (meskipun krisis ekonomi melanda T.T), MAKIN… MAKIN… MAKIINN… MAKKIIINNN… Heppiiii!!
Fiuh… tidak terasa setahun telah berlalu… Sudah setahun Iphin nginep di rumah Chelle… (Dari tanggal 31 Desember 2008 ampe 1 Januari 2009 maksudnya). Posting gokil ini adalah hasil kolaborasi (kolaborasi?) dari Iphin dan Chelle! YAHOO!! (GOOGLE!!)
Mari kita review tahun 2008 yang telah berlalu…
- Obama jadi presiden loooccchhh!
- Diadakan Olimpiade di Beijing! Itu lho yang ada maskotnya lima biji lucu-lucu itu…
- George Bush ditimpuk pake sepatu (…yang ini penting gak sih?)
- Krisis ekonomi mengerikan - orang-orang stres dan depresi, banyak yang bunuh diri, usaha-usaha tutup, kurs rupiah turun, pengangguran meningkat gara-gara banyak PHK…
- Spanyol menang EURO 2008! (Jerman juara 2 hikhik)
- Film Twilight kluar di bioskop! yuhuuu, bagus juga lhoo
- Film Laskar Pelangi juga keluar lho! Novelnya bagus lho! Semuanya pake lho, lho! Oh ya, Maryamah Karpov juga terbit tahun 2008 lho!
- Tahun 2008 adalah tahun tikus, menurut kalender Cina (nyokapnya Iphin shio tikus lho). Tahun 2009 adalah tahun kerbau, menurut kalender Cina (bokapnya Chelle shio kerbau lho).
- Ada gerhana bulan total, keren banget lho (kata mbaknya Iphin)
- Ada gempa bumi di Sichuan, Cina.
- Film High School Musical 3 keluar di bioskop!
- Si A’am ama si Fa’fab jadian lho! (*digebukin dua orang yang bersangkutan*)
- Si E’el ama si Pe’per jadian lho! (*ditamparin dua orang yang bersangkutan*)
- Si Ri’ric ama si A’an diet bersama dan akhirnya malah cintlok (udah putus sihh)
- Si Ja’jan putus sama si A’ab terus sekarang kayaknya jadi ‘deket’ sama D’det…
- Si Ni’nik lagi ngincer si Ju’jur lho!
- Si A’al lagi sakit, tapi si Si’sin nggak besuk-besuk… kasihan.
- (…Kok ini jadi tempat gosip ya?)
- Chelle dan Iphin ulang tahun lho! (Emangnya tahun lalunya nggak?)
- Chelle dan Iphin nonton Halloween… dan merasa menyesal telah menontonnya.
- Chelle dan Iphin dalam satu hari nonton Wanted dan Meet Dave berturut-turut!
- Chelle dan Iphin dan teman-teman lainnya nonton Quarantine… dan ngeri bersama.
- Chelle dan Iphin sama-sama udah baca novel ‘Dan Hujan Pun Berhenti…’ (sama-sama banjir air mata), ‘Laskar Pelangi’ (sama-sama terharu), ‘The Naked Traveler’ (sama-sama ngakak).
- Chelle dan Iphin menggambar-gambar bersama dan menghasilkan sebuah masterpiece - ini.
- Iphin ikutan OSN Fisika 2008 di Makassar lho! (ga dapet apa-apa sih)
- Chelle sekarang punya totalnya 32 boneka Snoopy!
- Iphin mulai main berbagai macam game online (kurang lebih ada sepuluh)
- Chelle punya nomor XL - biar bisa SMS-an sama Iphin… GRATIS!
- Iphin ikutan retret GBI RMK sama kakak-kakak tercinta (Iphin bertobat!)
- Chelle ikutan acara camping di sekolah (Chelle pegel-pegel!)
- Iphin meninggalkan dompetnya di Palembang waktu lomba Bintang Pintar Ultra T^T
- Chelle kehilangan hp-nya yang sepertinya dicopet orang waktu ke mall :’(
Wah, ternyata banyak sekali ya kejadian waktu tahun 2008! Banyak insiden-insiden geje, sediih, senaaank tlah kita lalui. Gak ada salahnya kalo buat 2009 kita punya target-target seperti:
- Chelle dan Iphin ingin menjadi orang yang lebih baik.
- Chelle dan Iphin ingin nonton 50 film dalam setahun.
- Chelle dan Iphin ingin baik blog dan deviantART-nya semakin… tersohor (?!).
- Chelle ingin jadi nggak males. (Tapi susah!)
- Iphin ingin blajar bangun pagi. (Tapi sulit!)
- Chelle ingin dapat ranking 10 besar di atas setelah UAN.
- Iphin ingin masuk 5 besar di atas setelah UAN.
- Chelle ingin tetap rutin ngeblog.
- Iphin ingin Internet di rumah lancar-mincar-gencar.
- Chelle ingin bisa main biola dengan lebih baik.
- Iphin ingin belajar vokal lebih lagi.
- Chelle ingin membaca lebih banyak buku.
- Iphin ingin blajar membaca buku lebih kilat.
- Chelle ingin bisa menggambar dengan lebih ‘go pro’ (apa sih).
- Iphin ingin bandnya jadi band beneran (yang punya CD di toko CD gitu loch)
Pesan moral dari cerita di atas adalah: Chelle dan Iphin ingin nonton konsernya Muse, dan kenalan sama tiap personilnya. (Lho?)
Mari kita berdoa supaya taon depan lebih baekk! Jangan putus asa apapun yang terjadii!! hihi =D
<< Older Posts